Sabtu, 14 Juli 2018

Ilmu Bukan Dihafal, Namun Difahami

     Ilmu adalah pelita dalam kehidupan, sebab dengan adanya ilmu kita bisa menjadi tau dari apa yang tidak kita ketahui. Hakikatnya ilmu sangat penting dalam kehidupan kita agar hidup kita punya tujuan dan arah yang baik. Untuk mencapai semua impian-impian, ilmu sangat dibutuhkan.  Dalam Islam kita dianjurkan untuk mencari ilmu seperti pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China ". Allah juga akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu karena begitu pentingnya ilmu. 

     Jika melihat hakikat ilmu, kita pasti akan benar-benar mencari ilmu dan menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya. Namun realita hari ini ilmu bukan menjadi tujuan utama melainkan hanya formalitas untuk mendapatkan gelar. Bahkan lebih miris kita sudah lazim mendengar kalimat "ilmu bisa dibeli", ini sungguh sangat menyedihkan. Pantas saja jika banyak pengangguran di negara kita, meskipun memiliki ijazah sarjana bahkan lebih dari itu. Pola fikir seperti ini salah dan harus dirubah. Selain itu, hal ini juga dikarenakan dalam proses pencapainnya kebanyakan orang menggunakan konsep yang salah. Kita masih menggunakan sistem menghafal dalam menerima ilmu. Perlu kita ketahui bahwa hafalan itu akan mudah hilang, melihat daya ingat manusia tidak pernah stabil dan setiap manusia memiliki daya ingat yang berbeda-beda. 

     Dalam sebuah film India klasil berjudul "3 idiot" menceritakan bahwa ilmu bukanlah dihafal melainkan difahami. Dalam film tersebut terlihat jelas maknanya ketika salah satu tokoh film tersebut bernama Chatur berpidato di depan khalayak ramai dalam acara hari guru dengan metode menghafal menggunakan Bahasa India. Kejahilan temannya mengubah beberapa kata dengan kata yang tidak lazim membuat si Chatur dipermalukan dalam pidatonya. Hal ini terjadi karena Chatur tidak memahami isi pidatonya sebab ia asyik dengan hafalannya. 

     Metode menghafal sangatlah bagus, namun alangkah baiknya diiringi dengan pemahaman. Selayaknya kita membaca ayat-ayat Al Quran kita diperintahkan menghafal, memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan
kita sehari-hari. Hal ini sudah sangat jelas bahwa dalam menerima ilmu jangan hanya mengandalkan metode menghafal melainka kita juga memahami maksud dari ilmu tersebut.

     Misalkan kita ingin meruqyah atau membaca surah dalam Al Quran dalam ruqyah tersebut, maka kita harus memahami ayat demi ayat yang kita baca agar apa yang kita baca dapat memancarkan kekuatan. Jika kita hanya membaca tanpa memahaminya yakinlah kita tidak akan berhasil dalam hal tersebut. Hal ini seperti dijelaskan Allah dalam firmannya ;

Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. Fushshilat {41} ; 44).

     Begitu halnya kita sebagai guru atau dai, sebelum kita menyampaikan kepada orang lain maka terlebih dahulu kita memahaminya. Niscaya jika kita faham maka apa yang kita sampaikan akan mudah difahami oleh orang yang mendengarkan kita. 

     Masih menyambung cerita tentang film 3 Idiot, bahwa dalam film tersebut banyak pelajaran yang bisa kita ambil tentang penerapan ilmu. Film yang dibintangi oleh Amir Khan tersebut mengajarkan kita bahwa ilmu dan kemampuan tidak dapat dipisahkan. Setiap orang memiliki kemapuan dan minat masing-masing yang tidak bisa kita paksakan. Maka jika kita ingin melangkah mencari ilmu, carilah ilmu yang kita minati dan membuat kita nyaman serta senang. Ilmu bukan hanya selembar ijazah melainkan sebuah kemampuan yang siap kita implementasikan dalam kehidupan dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat, carilah ilmu dengan iman. 
(EJ/18) 

Jumat, 13 Juli 2018

ANTARA HIDUP DAN AIR

Kehidupan kita saat ini jika dianalogikan seperti air yang terus mengalir. Air akan mengalir sesuai jalan alirannya, tanpa sedetikpun ia berhenti. Air selalu jalan ke depan, tak sedikitpun ia mengalir kembali ke belakang. Dalam perjalanannya, air selalu mendapatkan benturan dari bebatuan, penghalang sehingga terpecahnya aliran dan kedalaman tanah sehingga membuat tenang.

Salam halnya dalam kehidupan ini dengan perjalanan air tersebut. Hidup ini juga akan terus mengalir ke depan tanpa bisa berhenti apa lagi kembali ke belakang (masa lalu). Dalam perjalanan hidup kita akan menemukan rintangan, hambatan berupa kerikil tajam yang menimbulkan gelombang kehidupan. Tak jarang pula kita akan menemukan tempat yang dalam sehingga memberikan kita ketenangan dan kedamaian.

Beranjak dari hambatan perjalanan air dan hidup ini, kita dapat mengambil sebuah pelajaran. Air beriak tanda tak dalam, ini benar adanya. Jika kita kaitkan dengan kehidupan ini, manusia yang dangkal iman dan pemikirannya, maka akan mudah mendapatkan hambatan dan selalu menimbulkan kericuhan. Kenapa? Sebab tak ada pondasi kuat dalam menelusuri jalan.

Sebaliknya, air yang tenang itu karena dalam. Sama halnya dengan manusia, jika manusia memiliki kedalaman iman dan pemikiran maka hidup nya akan tenang. Iman akan mengantarkan manusia selalu tenang dan pemikiran akan mengantarkannya selalu mencari jalan kebaikan.

Jelas sudah, dalam menjalani kehidupan ini kita harus memiliki iman dan ilmu yang kuat (dalam). Jika demikian tak ada lagi keraguan kita untuk melangkah. Percaya akan semua takdir Allah, berjalan mengikuti arus kehidupan Allah. Tak ada niat sedikitpun untuk kembali ke masa lalu, sebab masa lalu sudah mati, masa sekaeang belum pasti dan yang pasti adalah masa sekarang.

Dalam kehidupan ini kita harus punya semangat seperti api, dan ketawaduan hati seperti air tenang. Berjalan pastilah di atas arsNya, yakin akan ketetapanNya. Terus berbuat dalam kebaikan, sampai akhir menutup mata. (EJ/18)
#SalamLiterasi
#pemudahebat
#pemudahijrah
#AyoMenulis
Keberanian Tertahan oleh Penguasa? 

Dewasa ini kita melihat Indonesia memiliki kelemahan dalam hal keadailan. Hukum di negara yang menganut sistem demokrasi ini bisa dibayar dengan uang. Masyarakat mengibaratkan posisi hukum di Indonesia seperti pisau memiliki dua sisi,  tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Artinya hukum berlaku kejam kepada masyarakat lemah baik finansial, ilmu dan kedudukan. Sebaliknya hukum berlaku lembut kepada masyarakat kuat baik finansial, ilmu dan kedudukan.

Teori di atas bukanlah fiktif belaka, namun realita yang terjadi saat ini. Sudah banyak terjadi di seluru penjuruh Indonesia akan ketimpangan hukum di negara ini. Masyarakat kecil mencuri singkong karena lapar dihukum bertahun-tahun, sedangkan koruptor yang dengan sengaja mencuri uang rakyat dengan buasnya, hanya dihukum ringan bahkan dimuliakan ketika berada di balaik jeruji besi.

Dalam sebuah film berjudul " Siapa Di Atas Presiden"  ini jelas menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan segalanya. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra ini tayang pada tahun 2015. Film tersebut mengajak kita sebagai penonton agar mengetahui bahwa politik itu kejam. Segala macam cara akan dilakukan untuk menjatuhkan lawan, sekalipun itu teman sendiri. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang berani menghalangi misi politikus yang sudah dibutakan oleh kekuasaan duniawi.

Indonesia tidak butuh politikus yang pandai beretorika di podium megah. Indonesia butuh pemimpin yang dapat merubah arah tajam hukum sesuai dengan sasarannya. Keberanian sungguh sangat dibutuhkan untuk melawan semua ini. Hal ini akan bisa diatasi jika seluruh elemen pemerintah dan masyarakat bersatu dan berkomitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Berantas antek-antek perusak hukum di negara cinta damai ini. Jangan biarkan mereka menggerogoti persatuan dan kewibawaan negara ini secara brutal.

Yakinlah ketika masyarakat Indonesia bersatu maka semua akan terwujud. Kita harus berjamaah, tidak bisa sendirian. Ibaratkan sapu lidi jika sendiri dia akan mudaj patah, namun jika banyak maka akan susah dan bahkan tidak bisa dipatahkan. Begitulah seharusnya kita, dengan kebhinekaan Indonesia bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan musuh-musuh negara.

Dalam Islam Allah menyuruh ummatnya untuk bersatu, yaitu:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali Imran: 103]

Semoga dengan bersatunya masyarakat Indonesia dalam melawan kebatilan di Indonesia ini dapat membangkitian kembali kejayaan Indonesia yang sudah hilang. Indonesia tidak butuh masyarakat berdasi namun berjiwa maling, namun butuh masyarakat berjiwa berani dalam memberantas kedzoliman. Berani berbuat dan berani bertindak. (EJ/18)ewasa ini kita melihat Indonesia memiliki kelemahan dalam hal keadailan. Hukum di negara yang menganut sistem demokrasi ini bisa dibayar dengan uang. Masyarakat mengibaratkan posisi hukum di Indonesia seperti pisau memiliki dua sisi,  tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Artinya hukum berlaku kejam kepada masyarakat lemah baik finansial, ilmu dan kedudukan. Sebaliknya hukum berlaku lembut kepada masyarakat kuat baik finansial, ilmu dan kedudukan.

Teori di atas bukanlah fiktif belaka, namun realita yang terjadi saat ini. Sudah banyak terjadi di seluru penjuruh Indonesia akan ketimpangan hukum di negara ini. Masyarakat kecil mencuri singkong karena lapar dihukum bertahun-tahun, sedangkan koruptor yang dengan sengaja mencuri uang rakyat dengan buasnya, hanya dihukum ringan bahkan dimuliakan ketika berada di balaik jeruji besi.

Dalam sebuah film berjudul " Siapa Di Atas Presiden"  ini jelas menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan segalanya. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra ini tayang pada tahun 2015. Film tersebut mengajak kita sebagai penonton agar mengetahui bahwa politik itu kejam. Segala macam cara akan dilakukan untuk menjatuhkan lawan, sekalipun itu teman sendiri. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang berani menghalangi misi politikus yang sudah dibutakan oleh kekuasaan duniawi.

Indonesia tidak butuh politikus yang pandai beretorika di podium megah. Indonesia butuh pemimpin yang dapat merubah arah tajam hukum sesuai dengan sasarannya. Keberanian sungguh sangat dibutuhkan untuk melawan semua ini. Hal ini akan bisa diatasi jika seluruh elemen pemerintah dan masyarakat bersatu dan berkomitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Berantas antek-antek perusak hukum di negara cinta damai ini. Jangan biarkan mereka menggerogoti persatuan dan kewibawaan negara ini secara brutal.

Yakinlah ketika masyarakat Indonesia bersatu maka semua akan terwujud. Kita harus berjamaah, tidak bisa sendirian. Ibaratkan sapu lidi jika sendiri dia akan mudaj patah, namun jika banyak maka akan susah dan bahkan tidak bisa dipatahkan. Begitulah seharusnya kita, dengan kebhinekaan Indonesia bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan musuh-musuh negara.

Dalam Islam Allah menyuruh ummatnya untuk bersatu, yaitu:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali Imran: 103]

Semoga dengan bersatunya masyarakat Indonesia dalam melawan kebatilan di Indonesia ini dapat membangkitian kembali kejayaan Indonesia yang sudah hilang. Indonesia tidak butuh masyarakat berdasi namun berjiwa maling, namun butuh masyarakat berjiwa berani dalam memberantas kedzoliman. Berani berbuat dan berani bertindak. (EJ/18)

Senin, 10 April 2017

Surat Nisa untuk Teman-Teman di Palestina

Oleh: Eva Juliyanti
Kring….kring….kring….
Alarm berbunyi dari kamar Nisa, Alarm itu terdengar hingga ke dapur. Nisa belum juga bangun meskipun alarm berbunyi begitu kencang. Ibu Nisa mendatangi kamar Nisa untuk membangunkannya karena Nisa harus segera bersiap-siap untuk pergi sekolah.
“Nisa..Nisa…bangun Nak, entar kamu telat ke sekolah.”
“Hmmm…masih ngantuk Bu,”Nisa menarik selimutnya kembali.
“Ya sudah, kalau kamu tidak mau bangun, Ibu tidak akan mengabulkan permintaan kamu.”
Nisa tersentak kaget dan segera terbangun sambil menarik tangan ibunya.
“Ibu jangan, Nisa uda bangun kok dan Nisa janji akan menurut apa kata Ibu, tapi ibu juga harus janji ibu akan mengabulkan permintaan Nisa untuk membantu Nisa mengirim surat kepada pak presiden untuk membantu saudara kita yang ada di Palestina”
“Iya nak, uda buruan mandi entar terlambat masuk sekolahnya. Ibu mau menyiapkan sarapan dulu.”
“Ok Bu..”
Nisa pergi sekolah diantar oleh supir pribadinya, Nisa anak yang cerdas dan ramah dengan semua orang. Nisa suka membantu sesama teman karena Ayah dan Ibu Nisa jadi orang tidak boleh sombong dan berat tangan untuk membantu sesama. Kita hidup di dunia ini tidak sendirian, kita punya teman, saudara, keluarga, tetangga dan masyarakat lainnya. Kita harus saling membantu siapapun itu, baik orang miskin maupun orang kaya.
“Selamat pagi bu guru, selamat pagi bu kantin, selamat pagi teman-teman.” Sapa Nisa sambil berjalan menuju kelas.
            Nisa sekarang duduk di kelas 5 SD, Nisa menjadi bintang kelas setiap tahunnya. Selain Nisa pintar, sifat solidaritas dan kepedulian Nisa juga tinggi. Nisa suka membantu teman-temannya ketika kesulitan dalam mengerjakan tugas.
“Bu guru datang.” Seru teman-teman Nisa
“Selamat pagi anak-anak, ayo ketua kelas siapkan”
“Bersiap, ucap salam”
“Selamat pagi bu guru…” Ucap kami serentak
“Selamat pagi anak-anak, silakan duduk!”
“Sebelum kita belajar mari kita membaca doa menurut agama masing-masing.”
“Baik anak-anak, hari ini kita akan belajar berhitung coba kalian keluarkan bukunya!”
“Bu…” Nisa mengacungkan tangan telunjuknya.
“Ada apa Nisa?” Jawab Bu guru
“Ibu melihat tahu tidak saudara kita di Palestina sedang menangis” Ujar Nisa dengan polosnya
“Iya, ibu tahu kok, ibu juga sedih melihatnya yang bisa kita lakukan sekarang untuk saudara kita di Palestina adalah mendoakannya”
“Bu, selain medoakannya apalagi yang bisa kita lakukan?” Tanya Deni
“Kita dapat menyumbangkan barang seperti baju, tas dan dapat menyumbangkan uang” Jawab bu guru.
“Kita menyumbangkannya langsung datang ke Palestina ya Bu?” Tanya Sri
“Tidak Sri, kita dapat menitipkan sumbangan kita kepada lembaga-lembaga yang merupakan relawan pengumpul dana untuk saudara kita di Palestina. Nah kalau kalian mau menyumbangkan barang atau uang kalian minta bantuan sama orang tua, atau melalui ibu juga bisa. Biasnya kalau kita ingin menyumbangkan uang melalui rekening atau pergi ke bank.”
‘”Oooghh.. begitu ya Bu.” Jawab serentak
“Bu, saya ingin mengirim surat ke teman-teman yang ada di Paletina, bisa kan Bu dan bagaimana caranya?” Tanya Nisa dengan menggebu-gebu.
“Bisa, kita dapat mengirim surat kita melalui pos.”
“Nisa mau kirim surat buat teman-teman di Palestina Bu dan Ibu Nisa sudah janji mau membantu Nisa untuk mengirimnya ke Palestina.”
“Saya juga mau membantu teman-teman di Palestina, saya mau menyumbangkan uang tabungan saya Bu.” Ujar Deni dengan semangat membara
“Iya Bu…” Jawab serentak
“Bagus kalau begitu, Ibu bangga dengan kalian.” Ucap Ibu Guru dengan bangga.
            Nisa menulis surat untuk teman-teman di Palestina di kamar Nisa yang penuh dengan boneka Barbie. Nisa sangat senang dengan boneka Barbie, wajar saja kalau di kamar Nisa banyak boneka Barbie. Ada boneka Barbie kesayangan Nisa, boneka itu adalah hadiah dari Almh. Nenek Nisa. Nisa ingin memberikan boneka Barbie untuk teman-teman di Palestina termasuk boneka kesayangannya itu.
“Tok..tok..tok..Nisa..”
“Iya Bu, masuk..”
“Nisa kok belum tidur?” Tanya Ibu sembari membelai rambut Nisa yang tergurai.
“Nisa sedang menulis surat untuk teman-teman di Palestina Bu dan Nisa ingin menyumbangkan boneka Barbie Nisa Bu?”
“Termasuk boneka dari Almh. Nenek ini?” Ibu mengambil boneka Barbie kesayangan Nisa
“Iya Bu, Nisa rela kok kalau boneka Nisa disumbangkan. Nenek pasti senang jika boneka pemberiannya dapat menghibur teman-teman Nisa di Palestina.” Nisa memeluk Ibunya sambil memandangi boneka Barbie kesayangnnya.
Ibu menemani Nisa menulis surat untuk teman-teman Nisa di Palestina. Nisa sangat bersemangat menulis kata demi kata di kertas puti dihiasi bunga-bunga berwarna pink. Tidak sadar Nisa sambil menulis air mata Nisa terjatuh, sehingga kertasnya ada bercak air mata.
“Nisa, kamu kenapa kok menangis?” Tanya Ibu heran karena Nisa menangis tersedu-sedu.
“Surat Nisa sudah selesai Bu, Ini dia..”

Dari : Nisa
Untuk teman-teman Nisa di Palestina
Assalamualaikum,
Saya Nisa di Indonesia, saya mengirim surat ini untuk teman-teman di Palestina dan saya juga ada boneka-boneka Barbie untuk teman-teman. Nisa tau kalian di sana sedang menangis, rumah kalian hancur terkena bom dan kalian kehilangan keluarga kalian dan teman-teman kalian.
Tapi jangan bersedih teman, Nisa di sini selalu mendoakan kalian selamat dan dilindungi Allah swt. Nisa iri melihat kalian karena kalian anak-anak yang kuat dan tegar. Meskipun kalian telah kehilangan rumah, keluarga dan teman-teman kalian tetap ceria.
Nisa ingin bermain bersama kalian, suatu saat nanti Nisa akan ke negara kalian untuk mengunjungi kalian di sana. Kita bisa bermain bersama, kita bisa bersatu untuk melawan orang-orang yang telah menghancurkan rumah, keluarga dan teman-teman kita.
Pesan Nisa, jangan bersedih ya!
Nisa selalu bersama kalian kok, begitu juga Allah. Allah selalu melindungi kalian karena Allah tidak tidur.

Salam sayang dari Nisa


Jumat, 07 April 2017

Assalamu’alaikum Beijing: Islam, Indonesia dan  China
Oleh : Eva Juliyanti
            Asma Nadia selalu menelurkan karya-karya yang menggugah hati para pembacanya. Setelah novel berjudul Catatan Hati Seorang Istri yang diadopsi ke dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia, kini Asma Nadia menelurkan sebuah novel berjudul Assalamualaikum Beijing. Novel tersebut telah diangkat ke layar lebar dan sekali lagi mendapatkan apresiasi yang tinggi dari penggemar dan penonton.
            Film Assalamua’alikum Beijing mendapatkan apresiasi dari para penontonnya. Kesuksessan film ini direbus dengan apik oleh penulis skenario Alim Sudio dan sutradara Guntur Soeharjanto yang sebelumnya menyutradarai film “99 Cahaya di Langit Eropa” dari novel Hanum Rais. Film ini mengadopsi novel karya Asma Nadia dengan judul yang sama Assalamuaalikum Beijing atau disebut AB. Dalam film tersebut merupakan kombinasi perjalanan Asma Nadia ke Beijing dan konflik cerita yang benar-benar terjadi.
Film Assalamualaikum Beijing merupakan adopsi dari novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia yang ditulisnya tahun 2012. Novel ini mengisahkan tokoh Asma yang terpaksa membatalkan pernikahannya sehari menjelang hari pernikahannya karena calon suaminya Dewa mengkhianatinya. Asma lalu menerima tugas sebagai penulis kolom di Beijing. Bersama sahabat setianya Sekar dan suami Sekar (Ridwan), Asma menikmati tugas barunya di Beijing dan berusaha melupakan Dewa. Hingga pada suatu hari muncul Zhong Wen, lelaki sederhana dan tulus yang menceritakan padanya tentang Ashima, sebuah legenda Yunan, Cina. Namun sayang, Asma kemudian mengalami sakit APS (Anti Phospolipid Syndrome) yang cukup parah, yang bisa mengakibatkannya stroke, lumpuh hingga kehilangan penglihatan. Asma lalu pulang ke Indonesia tanpa memberitahu Zhong Wen apa yang terjadi dan berusaha melupakan Zhong Wen. Zhong Wen yang ingin menjadikan Asma sebagai istrinya kemudian menyusulnya ke Indonesia.
            Cerita dari novel tersebut begitu ditampilkan dalam bentuk film layar lebar sangat bagus. Ceritanya menginspirasi banyak orang. Film tersebut dapat dinikmati dari berbagai kalangan. Film Assalamualaikum Beijing diperankan oleh artis-artis Indonesia, seperti Morgan Oey sebagai Zhong Wen,  Revalina S. Temat sungguh tepat memerankan sosok Asma. Ibnu Jamil berperan sangat baik sebagai Dewa. Laudya Chintya Bella serta Desta memiliki chemistry luar biasa sebagai pasangan suami istri kocak sahabat sejati Asma.
            Film Assalamualaikum Beijing mengajak penonton untuk mengelilingi tempat-tempat indah dan penuh sejarah di Beijing. Perjalanan tersebut bukan sekedar melihat, melainkan penoton diajak untuk mengenlnya karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang punya cerita. Tempat-tampat yang ditunjukkan dalam film tersebut banyak khususnya yang berbau Islam.
            China terkenal dengan tembok raksasa, orang China berkeyakinan bahwa jika seseorang berhasil melewati tembok tersebut maka dia akan  bahagia. Selain tembok raksasa dan film tersebut juga dikisahkan legenda Ashima. Kekuatan cinta Ashima menjadi tonggak tokoh Zhong Wen meraih cinta sejatinya, yaitu Asma.
                Salah satu tempat yang ditunjukkan yaitu sebuah masjid di Beijing yang umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Masjid tersebut memiliki bangunan yang megah dan apik serta fasilitas yang memadai. Dalam film Assalamu’alaikum Beijing diperlihtkan salah satu fasilitasnya yaitu sebuah kursi dan meja yang di designe khusus untuk para jama’ah yang mempunyai kebutuhan khusus atau para jama’ah yang tidak bisa secara normal melakukan shalat. Kursi dan meja tersebut dapat membantu para jama’ah untuk shalat tanpa merasakan kesulitan karena tidak bisa berdiri.
Fasilitas masjid dari masjid yang ditunjukkan dalam film tersebut menunjukkan betapa pedulinya masyarakat Islam di China. Islam begitu dihargai dan dihormati di China. Mereka mendesign fasilitas senyaman mungkin untuk para jama’ahnya. Kenyamanan para jama’ah saat berada di sebuah masjd akan menimbulkan rasa nyaman dan ingin selalu ke masjid. Secara otomatis rasa tersebut akan memakmurkan masjid.
            Selain masjid banyak lagi tempat-tempat bernuansa Islam ditunjukkan dalam film tersebut, seperti restaurant dan lain sebagainya. Film tersebut menunujukkan bahwa Islam memiliki tempat yang terhormat di Beijing karena Islam dianggap sebagai agama yang suci dan itu memang benar. Kehormatan agama Islam di Beijing menempatkan agama Islam termasuk salah satu agama yang di akui di China. Penganut agama Islam di China tergolong sedikit hanya sekitar lebih kurang dua puluh juta jiwa orang.
            Selain tempat-tempat bernuansa Islam ditujukkan dalam film tersebut, penonton juga disuguhkan adab-adab bertemu sapa wanita muslima kepada orang lain yang bukan mahramnya atau muhrimnya. Asma memperlihatkan bahwa wanita muslima jika bertemu dengan lelaki yang bukan muhrimnya tidak diperbolehkan bersentuhan tangan atau menjabat tangan. Kebiasaan berkenalan dengan menjabat tangan antara laki-laki dan wanita yang belum halal ini sudah menjari budaya di Indonesia khusunya yang beraga Islam. Islam sendiri melarang bagi kaum laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya untuk berjabatan tangan karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
            Bukan saja mengangkat cerita-cerita bernuansa Islam, film Assalamualaikum Beijing juga memberikan kisah cinta sejati. Kutipan kata-kata indah dalam novel dimunculkan sutradara melalui perkataan para tokoh, serasa menancap di benak penonton, misalnya: “Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka.” Atau perkataan Asma pada Dewa: “Jangan kau sandingkan nama Tuhan dengan kebohongan!” Atau kutipan: “Bila tak kau temukan cinta, biar cinta menemukanmu.” Dan yang akan paling diingat penonton: “Cinta sempurna itu ada, dan tak perlu fisik sempurna untuk bisa memiliki kisah cinta yang sempurna.”
            Cinta sejati itu ada, hal ini ditunjukkan dari tokoh Asma yang menderita penyakit. Ketidaksempurnaan fisiknya tidak melunturkan cinta Zhong Wen kepada Asma. Zhong Wen yang awalnya beragam non Islam dan masih bingung dengan sebuah keyakinan akhirnya hidaya Allah melalui sosok Asma datang dan menuntunnya masuk Islam. Kesetiaan Zhong Wen terhadap Asma dibuktikan saat Asma menghadapi masa-masa sulit melawan penyakitnya. Zhong Wen menikahi Asma meskipun Asma dalam ketidaksempurnaan, namun cinta mengalahkan ketidaksempurnaan itu semua.
            Cinta tidak memandang siapa yang akan dicintai, bagaimana keadaan yang akan dicintai dan apa status yang akan dicintai tersebut. Cinta bukanlah sebuah kejahatan yang harus memberikan hukuman bagi para pengemban cinta sejati. Kalaulah cinta sebuah kejahat sudah jelas orang yang mencintai itu adalah penjahat. Begitulah cinta Zhong Wen terhadap Asma, Zhong Wen mencintai Asma meskipun awalnya ditolak karena Asma merasa tidak akan berbuat adil kepada Zhong Wen nantinya.
Penonton dapat menyaksikan bagaimana perjuangan seseorang yang benar-benar mencintai dengan tulus, seseorang yang mendapatkan hidayah melalui perantara hamba-Nya, seseorang yang dengan tegar menghadapi ujian yang diberikan oleh-Nya, dan sosok luar biasa yang menginspirasi banyak orang dengan tulisannya. Beliau berda’wah melalui tulisannya, mensyiarkan agama melalui karyanya, serta kembali meruntuhkan dinding kokoh yang tercipta antara umat dan Rasul melalui kisah sahabat yang disisipkan melalui novel dan film Assalamualaikum Beijing.
Penonton dapat mengambil hikmah bahwa cinta itu tidak perlu fisik. Cinta adalah sebuah fitrah dari Tuhan kepada setiap ummatnya. Kemurnian cinta seringkali dikotori oleh ulah ummatnya sendiri. Menunjukkan rasa cinta bukan berarti dengan mengekspresikannya secara agresif. Pacaran yang sudah menjadi tradisi saat ini sangat tidak benar untuk mengungkapkan rasa cinta itu. Pacaran bukanlah akhir pelabuhan dari perjalan cinta tersebut, kekuatan cinta saat pacaran tidaklah kuat. Menunjukkan cinta bukan dengan pacaran melainkan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menjemput cinta sejati.
 (Terbit di Analisa)

                                                            Penulis adalah Alumni UMSU dan Guru SIT IQRA’

Kamis, 06 April 2017

Ketika Tuhan Menitipkan Cinta
Oleh: Eva Juliyanti
            Tuhanku, berikan ku cinta yang Kau titipkan
            Bukan cinta yang pernah ku tanam
Sebuah lirik lagu sebagai motivasiku dalam mencari cinta sejati. Aku yakin Tuhan akan memberikanku pendamping hidup yang sesuai dengan kebutuhan hidupku bukan apa yang aku inginkan. Aku yakin pendamping dari Tuhan itulah yang terbaik, tidak seperti cinta yang timbul dari nafsuku.
Persoalan cinta aku memang bukan ahlinya atau pakarnya. Aku orang yang susah untuk jatuh cinta dengan orang lain, kalau untuk sekedar kagum atau suka itu sering aku alami. Sikap dingin aku untuk jatuh cinta karena aku mempunyai prinsip jangan jatuh cinta tapi bangunlah cinta. Selain, lirik di atas kata pamungkasku untuk menemukan cinta sejatiku adalah kata-kata itu.
“Riva….Riva…Tunggu….!!!”
“Eh…Suci, ada apa?”
“Kita masuk jam berapa dan di ruang mana hari ini?”Tanya Suci dengan nafas yang masih belum terkontrol.
“Kita masuk pukul 13.30 WIB di ruangan biasa, Ci. Ini aku mau ke kelas karena mau mengerjakan tugas dari Ibu itu.”
“Memang ada tugas ya Va?. Kok aku lupa ya”Suci menggaruk kepalanya sembari senyum muka bersalah.
“Hmm…kamu ini kebiasaan deh, giliran tugas aja lupa coba giliran cowok selalu ingat. Dasar…..”
“Dasar cewek pengagum pria dan cinta tidak jelas, pasti itukan yang mau kau ucapkan …”Suci sudah mengetahui kelanjutan dari kata-kataku.
“Nah, itu sudah tau” Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku Suci.
            Suci adalah teman sekelasku, anaknya itu pengagum cinta banget berbanding terbalik dengan aku yang kurang doyan dengan cinta-cinta semu dan tidak jelas gitu. Terkadang aku heran melihat suci dan teman-teman lainnya yang suka dipermainkan dengan cinta semu dan tidak jelas ujungnya itu. Suci ini suka sekali dengan cinta seperti itu dan jika kupertanyakan yakinkah kalau cintamu saat ini akan menjadi cinta sejati?. Suci tidak pernah memberikan jawaban yang menyakinkana aku.
            Aku bukannya tidak percaya atau meragukan cinta Suci dan teman-teman yang sedang bermain dengan cinta semu itu. Aku juga pernah jatuh hati, memendam rasa suka dan kagum terhadap lawan jenisku karena bagiku itu hal yang normal dan wajar. Namun, aku bersyukur dapat mengendalilan cintaku sehingga aku tidak terperdaya dengan cinta semu itu dan aku yakin cinta sejati itu adalah cinta dari Tuhan.
            Masjid di kampus adalah tempat favoritku, aku merasa nyaman dan sejuk jika berada di masjid. Wajar saja jika teman-temanku sulit menemukanku, mereka tinggal pergi ke masjid di kampus aku pasti ada di situ. Pohon melinjo yang ada di masjid menjadi teman ngobrolku dan keteduhan hati bagiku. Aku sempat bertanya pada pohon itu.
“Pohon apakah kau mempunyai cinta sejati dan kapan kau mendapatkan cinta sejati itu?”
Pohon itu hanya menjawab dengan mengayunkan ranting dan daun-daun hijaunya dengan lemah gemulai. Itu artinya pohon itu sudah mendapatkan cinta sejatinya dan waktunya itu tidak dapat diprediksikan, begitulah arti dari lambaian pohon itu.
“Assalamualaikum ukh…” Salam seorang wanita yang ada di hadapanku dan mengulurkan tangannya.
“Waalaikumsalam ukh, ada apa ukhty Sri?” Aku menyambut uluran tangannya dan saling bersatu memperat tali silahturahmi.
“Ana lihat, ukhty sedang melamun memang apa yang sedang dilamunkan ukh?” Sri mengetahui pembicaraanku dengan pohon melinjo itu.
“Hehe… begini ukh ana masih bingung dengan cinta sejati, apakah cinta sejati akan datang dengan sendirinya atau harus kita jemput ukh?”
“Cinta sejati itu adalah cinta yang tumbuh saat kita sudah halal baginya. Cinta itu akan bersemi saat ijab qobul telah terkumandang. Cinta sejati itu cinta yang berani berkomitmen, bukan cinta yang diumbar-umbarkan. Untuk mendapatkan cinta sejati kita harus melihat diri kita terlebih dahulu.” Sri menjawab dengan penghayatan seakan-akan ia sudah mendapatkan cinta sejati itu.
“Maksud ukhty, kita harus melihat diri kita untuk mendapatkan cinta sejati itu  bagaimana ukh?”Tanyku dengan nada bingung.
“Kalau kita ingin mendapatkan cinta sejati yang kita inginkan maka kita harus mempersiapkan diri, muhasabah diri, memperbaiki diri menjadi sosok yang kita inginkan untuk menjadi cinta sejati kita .”
“Ana masih belum paham ukh?”
“Begini saudariku yang kucintai karena Allah, jika ukhty menginginkan pendamping hidup yang soleh dan taat kepada Allah ukhty harus bisa menjadi wanita yang soleha dan taat kepada Allah juga. Sebab, jodoh kita itu adalah cerminan dari diri kita saat ini.”
“Oooo…begitu ya ukh, aku sudah paham sekarang.” Ujarku sambil menatap pohon melinjo itu. Pohon itu terseyum kepadaku.
“Iya ukh, memang ukhty Riva sudah menginginkan cinta sejati itu ya?”
“Hehe… iya ukh karena aku bosan dengan cerita cinta semu dari teman-teman aku. Mereka kok mau ya dipermainkan dengan cinta yang tidak tau endingnya.”
“Itulah bedanya cinta karena nafsu dan cinta dari Allah” Sri memukul pundakku untuk menyadarkanku akan kekuatan cinta Allah.
“Seperti lagunya Maidani ya  kan ukh?”
“Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam.” Kami mendendangkan lirik lagi secara bersamaan.
Legah rasanya mendapatkan kepastian akan cinta sejati itu seperti apa dan bagaimana cara mendapatkannya. Aku sekarang akan memperbaiki seluruh tindakan dan perbuatan untuk menjadi pribadi yang baik, agar aku mendapatkan pendamping hidup yang baik pula.
Waktu berlalu dengan cepat, secepat angin tornado. Usiaku kini semakin berkurang di dunia ini dan akupun sudah menduduki bangku kuliah terakhir. Permintaan orang tuaku selain segera wisuda juga segera menikah. Aku mulai gelisah, di mana aku sedang mengejar target untuk wisuda di satu sisi aku harus mengejar jodohku juga. Ah, aku yakin jodohku pasti datang dan sesuai dengan kepribadianku saat ini.
“Assalamualikum ukhty?” Sapa pria berjenggot tipis, memakai celana goyang dan kemeja berbalut jaket.
“Waalaikumsalam”Aku terpelongoh sebab sosok pria itu seperti sosok pria yang aku idamkan saat ini.
“Kamu Riva kan?”
“iiiiii..iiii…yaaa..”Aku gugup, jantungku seperti genderang yang mau peranng.
“Ini ada surat dan undangan buat ukhty..”Pria itu memberikan kotak berwarna merah darah dihiasi pita.
“Dari siapa ya?”Tanyaku masih belum percaya, sebab aku baru saja berbicara dengan pohon melinjo itu tentang pria calon pendampingku dan sekarang sosok pria itu sudah di depan mataku, namun aku tidak boleh memandangnya.
“Entar kamu juga akan mengetahui itu dari siapa dan jika kamu sudah membacanya kamu dapat membalasnya via sms saja karena di dalamnya sudah tertera nomor handphonenya.”
“Iya…” Aku mengangguk dengan tatapan tak percaya di pohon melinjo itu.
“Aku pergi dulu ya ukh, Assalamualaikum..” Pria itu bergegas pergi masuk ke dalam masjid.
“Waalaikumsalam....” Aku penasaran dengan isi dalam kotak itu yang katanya ada surat, nomor handphone dan undangan.

“Ya…Allah apakah dia pria yang kau titipkan buatku?”





Sahabat, Penghantar ke JannahNya
" Bertemanlah kamu kepada yang selalu mengingatkan diri akan Allah"
Sahabat, jika kelak kau tidak menemukanku di surga carilah aku untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. Sebab, kita berjalan bersama dalam mencari keridhaan Allah ketika di dunia.  Sebab, sahabat salah satu syafaat yang kita miliki ketika berhadapan sama Allah. Maka Islam sangat menganjurkan kita untuk memilih sahabat secara selektif. 
Sahabat adalah salah satu cerminan diri kita. Siapa kita dapat dilihat siapa sahabat kita. Bijaklah dalam memilih sahabat. Bukan berarti kita membatasi pergaulan atau menutup diri untuk berteman dengan orang lain. Hanya saja dibutuhkan kejelian dalam memilih teman atau sahabat, jangan sampai kita keliru dan terhanyut dengan sahabat yang membawa kita dalam kemaksiatan. 
Kita boleh berteman oleh siapapun, namun tidak semua teman kita jadikan sahabat. Sebab, sahabat adalah salah satu yang dapat mengantarkan kita ke surga atau neraka. Pilihlah sahabat yang seakidah, baik agamanya dan mengajak kita dalam kebaikan. 
Jadilah seorang sahabat yang dapat mewarnai kehidupan sahabat kita dengan cahaya kasih Allah. Menegur dalam kesendirian, bersabar dalam menasehati. Mengenali dan memahami karakter sahabat kita. Insya Allah akan menjadi sahabat surga yang kelak bersama-sama membangun cinta kekal di syurgaNya Allah. Amin (EJ)
#SalamUkhuwah
#YukMenulis
#SalamLiterasi