Jumat, 13 Juli 2018

Keberanian Tertahan oleh Penguasa? 

Dewasa ini kita melihat Indonesia memiliki kelemahan dalam hal keadailan. Hukum di negara yang menganut sistem demokrasi ini bisa dibayar dengan uang. Masyarakat mengibaratkan posisi hukum di Indonesia seperti pisau memiliki dua sisi,  tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Artinya hukum berlaku kejam kepada masyarakat lemah baik finansial, ilmu dan kedudukan. Sebaliknya hukum berlaku lembut kepada masyarakat kuat baik finansial, ilmu dan kedudukan.

Teori di atas bukanlah fiktif belaka, namun realita yang terjadi saat ini. Sudah banyak terjadi di seluru penjuruh Indonesia akan ketimpangan hukum di negara ini. Masyarakat kecil mencuri singkong karena lapar dihukum bertahun-tahun, sedangkan koruptor yang dengan sengaja mencuri uang rakyat dengan buasnya, hanya dihukum ringan bahkan dimuliakan ketika berada di balaik jeruji besi.

Dalam sebuah film berjudul " Siapa Di Atas Presiden"  ini jelas menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan segalanya. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra ini tayang pada tahun 2015. Film tersebut mengajak kita sebagai penonton agar mengetahui bahwa politik itu kejam. Segala macam cara akan dilakukan untuk menjatuhkan lawan, sekalipun itu teman sendiri. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang berani menghalangi misi politikus yang sudah dibutakan oleh kekuasaan duniawi.

Indonesia tidak butuh politikus yang pandai beretorika di podium megah. Indonesia butuh pemimpin yang dapat merubah arah tajam hukum sesuai dengan sasarannya. Keberanian sungguh sangat dibutuhkan untuk melawan semua ini. Hal ini akan bisa diatasi jika seluruh elemen pemerintah dan masyarakat bersatu dan berkomitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Berantas antek-antek perusak hukum di negara cinta damai ini. Jangan biarkan mereka menggerogoti persatuan dan kewibawaan negara ini secara brutal.

Yakinlah ketika masyarakat Indonesia bersatu maka semua akan terwujud. Kita harus berjamaah, tidak bisa sendirian. Ibaratkan sapu lidi jika sendiri dia akan mudaj patah, namun jika banyak maka akan susah dan bahkan tidak bisa dipatahkan. Begitulah seharusnya kita, dengan kebhinekaan Indonesia bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan musuh-musuh negara.

Dalam Islam Allah menyuruh ummatnya untuk bersatu, yaitu:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali Imran: 103]

Semoga dengan bersatunya masyarakat Indonesia dalam melawan kebatilan di Indonesia ini dapat membangkitian kembali kejayaan Indonesia yang sudah hilang. Indonesia tidak butuh masyarakat berdasi namun berjiwa maling, namun butuh masyarakat berjiwa berani dalam memberantas kedzoliman. Berani berbuat dan berani bertindak. (EJ/18)ewasa ini kita melihat Indonesia memiliki kelemahan dalam hal keadailan. Hukum di negara yang menganut sistem demokrasi ini bisa dibayar dengan uang. Masyarakat mengibaratkan posisi hukum di Indonesia seperti pisau memiliki dua sisi,  tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Artinya hukum berlaku kejam kepada masyarakat lemah baik finansial, ilmu dan kedudukan. Sebaliknya hukum berlaku lembut kepada masyarakat kuat baik finansial, ilmu dan kedudukan.

Teori di atas bukanlah fiktif belaka, namun realita yang terjadi saat ini. Sudah banyak terjadi di seluru penjuruh Indonesia akan ketimpangan hukum di negara ini. Masyarakat kecil mencuri singkong karena lapar dihukum bertahun-tahun, sedangkan koruptor yang dengan sengaja mencuri uang rakyat dengan buasnya, hanya dihukum ringan bahkan dimuliakan ketika berada di balaik jeruji besi.

Dalam sebuah film berjudul " Siapa Di Atas Presiden"  ini jelas menggambarkan bahwa kekuasaan mengalahkan segalanya. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra ini tayang pada tahun 2015. Film tersebut mengajak kita sebagai penonton agar mengetahui bahwa politik itu kejam. Segala macam cara akan dilakukan untuk menjatuhkan lawan, sekalipun itu teman sendiri. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang berani menghalangi misi politikus yang sudah dibutakan oleh kekuasaan duniawi.

Indonesia tidak butuh politikus yang pandai beretorika di podium megah. Indonesia butuh pemimpin yang dapat merubah arah tajam hukum sesuai dengan sasarannya. Keberanian sungguh sangat dibutuhkan untuk melawan semua ini. Hal ini akan bisa diatasi jika seluruh elemen pemerintah dan masyarakat bersatu dan berkomitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Berantas antek-antek perusak hukum di negara cinta damai ini. Jangan biarkan mereka menggerogoti persatuan dan kewibawaan negara ini secara brutal.

Yakinlah ketika masyarakat Indonesia bersatu maka semua akan terwujud. Kita harus berjamaah, tidak bisa sendirian. Ibaratkan sapu lidi jika sendiri dia akan mudaj patah, namun jika banyak maka akan susah dan bahkan tidak bisa dipatahkan. Begitulah seharusnya kita, dengan kebhinekaan Indonesia bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan musuh-musuh negara.

Dalam Islam Allah menyuruh ummatnya untuk bersatu, yaitu:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali Imran: 103]

Semoga dengan bersatunya masyarakat Indonesia dalam melawan kebatilan di Indonesia ini dapat membangkitian kembali kejayaan Indonesia yang sudah hilang. Indonesia tidak butuh masyarakat berdasi namun berjiwa maling, namun butuh masyarakat berjiwa berani dalam memberantas kedzoliman. Berani berbuat dan berani bertindak. (EJ/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar