Assalamu’alaikum
Beijing:
Islam, Indonesia dan China
Oleh : Eva Juliyanti
Asma Nadia selalu menelurkan
karya-karya yang menggugah hati para pembacanya. Setelah novel berjudul Catatan Hati Seorang Istri yang diadopsi
ke dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia, kini
Asma Nadia menelurkan sebuah novel berjudul Assalamualaikum
Beijing. Novel tersebut telah diangkat ke layar lebar dan sekali lagi
mendapatkan apresiasi yang tinggi dari penggemar dan penonton.
Film Assalamua’alikum Beijing mendapatkan apresiasi dari para
penontonnya. Kesuksessan film ini direbus dengan apik oleh penulis skenario
Alim Sudio dan sutradara Guntur Soeharjanto yang sebelumnya menyutradarai film
“99 Cahaya di Langit Eropa” dari novel Hanum Rais. Film ini mengadopsi novel karya Asma Nadia dengan judul yang sama
Assalamuaalikum Beijing atau disebut
AB. Dalam film tersebut merupakan kombinasi perjalanan Asma Nadia ke Beijing
dan konflik cerita yang benar-benar terjadi.
Film Assalamualaikum Beijing merupakan adopsi dari novel Assalamualaikum
Beijing karya Asma Nadia yang ditulisnya tahun 2012. Novel ini mengisahkan
tokoh Asma yang terpaksa membatalkan pernikahannya sehari menjelang hari
pernikahannya karena calon suaminya Dewa mengkhianatinya. Asma lalu menerima
tugas sebagai penulis kolom di Beijing. Bersama sahabat setianya Sekar dan
suami Sekar (Ridwan), Asma menikmati tugas barunya di Beijing dan berusaha
melupakan Dewa. Hingga pada suatu hari muncul Zhong Wen, lelaki sederhana dan
tulus yang menceritakan padanya tentang Ashima, sebuah legenda Yunan, Cina.
Namun sayang, Asma kemudian mengalami sakit APS (Anti Phospolipid Syndrome)
yang cukup parah, yang bisa mengakibatkannya stroke, lumpuh hingga kehilangan
penglihatan. Asma lalu pulang ke Indonesia tanpa memberitahu Zhong Wen apa yang
terjadi dan berusaha melupakan Zhong Wen. Zhong Wen yang ingin menjadikan Asma
sebagai istrinya kemudian menyusulnya ke Indonesia.
Cerita dari novel tersebut begitu
ditampilkan dalam bentuk film layar lebar sangat bagus. Ceritanya menginspirasi
banyak orang. Film tersebut dapat dinikmati dari berbagai kalangan. Film Assalamualaikum Beijing diperankan oleh
artis-artis Indonesia, seperti Morgan Oey sebagai Zhong Wen, Revalina S. Temat sungguh tepat memerankan
sosok Asma. Ibnu Jamil berperan sangat baik sebagai Dewa. Laudya Chintya Bella
serta Desta memiliki chemistry luar biasa sebagai pasangan suami istri
kocak sahabat sejati Asma.
Film Assalamualaikum Beijing mengajak penonton untuk mengelilingi
tempat-tempat indah dan penuh sejarah di Beijing. Perjalanan tersebut bukan
sekedar melihat, melainkan penoton diajak untuk mengenlnya karena tempat-tempat
tersebut merupakan tempat yang punya cerita. Tempat-tampat yang ditunjukkan
dalam film tersebut banyak khususnya yang berbau Islam.
China terkenal dengan tembok
raksasa, orang China berkeyakinan bahwa jika seseorang berhasil melewati tembok
tersebut maka dia akan bahagia. Selain
tembok raksasa dan film tersebut juga dikisahkan legenda Ashima. Kekuatan cinta
Ashima menjadi tonggak tokoh Zhong Wen meraih cinta sejatinya, yaitu Asma.
Salah satu tempat yang
ditunjukkan yaitu sebuah masjid di Beijing yang umurnya sudah lebih dari seribu
tahun. Masjid tersebut memiliki bangunan yang
megah dan apik serta fasilitas yang memadai. Dalam film Assalamu’alaikum Beijing diperlihtkan salah satu fasilitasnya yaitu
sebuah kursi dan meja yang di designe khusus untuk para jama’ah yang mempunyai
kebutuhan khusus atau para jama’ah yang tidak bisa secara normal melakukan
shalat. Kursi dan meja tersebut dapat membantu para jama’ah untuk shalat tanpa
merasakan kesulitan karena tidak bisa berdiri.
Fasilitas masjid dari masjid yang ditunjukkan dalam
film tersebut menunjukkan betapa pedulinya masyarakat Islam di China. Islam
begitu dihargai dan dihormati di China. Mereka mendesign fasilitas senyaman
mungkin untuk para jama’ahnya. Kenyamanan para jama’ah saat berada di sebuah
masjd akan menimbulkan rasa nyaman dan ingin selalu ke masjid. Secara otomatis
rasa tersebut akan memakmurkan masjid.
Selain masjid banyak lagi
tempat-tempat bernuansa Islam ditunjukkan dalam film tersebut, seperti
restaurant dan lain sebagainya. Film tersebut menunujukkan bahwa Islam memiliki
tempat yang terhormat di Beijing karena Islam dianggap sebagai agama yang suci
dan itu memang benar. Kehormatan agama Islam di Beijing menempatkan agama Islam
termasuk salah satu agama yang di akui di China. Penganut agama Islam di China
tergolong sedikit hanya sekitar lebih kurang dua puluh juta jiwa orang.
Selain
tempat-tempat bernuansa Islam ditujukkan dalam film tersebut, penonton juga
disuguhkan adab-adab bertemu sapa wanita muslima kepada orang lain yang bukan
mahramnya atau muhrimnya. Asma memperlihatkan bahwa wanita muslima jika bertemu
dengan lelaki yang bukan muhrimnya tidak diperbolehkan bersentuhan tangan atau
menjabat tangan. Kebiasaan berkenalan dengan menjabat tangan antara laki-laki
dan wanita yang belum halal ini sudah menjari budaya di Indonesia khusunya yang
beraga Islam. Islam sendiri melarang bagi kaum laki-laki dan wanita yang bukan
mahramnya untuk berjabatan tangan karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
Bukan saja mengangkat cerita-cerita
bernuansa Islam, film Assalamualaikum
Beijing juga memberikan kisah cinta sejati. Kutipan kata-kata indah dalam
novel dimunculkan sutradara melalui perkataan para tokoh, serasa menancap di
benak penonton, misalnya: “Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka.”
Atau perkataan Asma pada Dewa: “Jangan kau sandingkan nama Tuhan dengan
kebohongan!” Atau kutipan: “Bila tak kau temukan cinta, biar cinta
menemukanmu.” Dan yang akan paling diingat penonton: “Cinta sempurna itu ada,
dan tak perlu fisik sempurna untuk bisa memiliki kisah cinta yang sempurna.”
Cinta sejati itu ada, hal ini
ditunjukkan dari tokoh Asma yang menderita penyakit. Ketidaksempurnaan fisiknya
tidak melunturkan cinta Zhong Wen kepada Asma. Zhong Wen yang awalnya beragam
non Islam dan masih bingung dengan sebuah keyakinan akhirnya hidaya Allah
melalui sosok Asma datang dan menuntunnya masuk Islam. Kesetiaan Zhong Wen terhadap
Asma dibuktikan saat Asma menghadapi masa-masa sulit melawan penyakitnya. Zhong
Wen menikahi Asma meskipun Asma dalam ketidaksempurnaan, namun cinta
mengalahkan ketidaksempurnaan itu semua.
Cinta tidak memandang siapa yang
akan dicintai, bagaimana keadaan yang akan dicintai dan apa status yang akan
dicintai tersebut. Cinta bukanlah sebuah kejahatan yang harus memberikan
hukuman bagi para pengemban cinta sejati. Kalaulah cinta sebuah kejahat sudah
jelas orang yang mencintai itu adalah penjahat. Begitulah cinta Zhong Wen
terhadap Asma, Zhong Wen mencintai Asma meskipun awalnya ditolak karena Asma
merasa tidak akan berbuat adil kepada Zhong Wen nantinya.
Penonton dapat menyaksikan bagaimana perjuangan seseorang yang
benar-benar mencintai dengan tulus, seseorang yang mendapatkan hidayah melalui
perantara hamba-Nya, seseorang yang dengan tegar menghadapi ujian yang
diberikan oleh-Nya, dan sosok luar biasa yang menginspirasi banyak orang dengan
tulisannya. Beliau berda’wah melalui tulisannya, mensyiarkan agama melalui
karyanya, serta kembali meruntuhkan dinding kokoh yang tercipta antara umat dan
Rasul melalui kisah sahabat yang disisipkan melalui novel dan film Assalamualaikum Beijing.
Penonton dapat mengambil hikmah bahwa cinta itu tidak perlu fisik.
Cinta adalah sebuah fitrah dari Tuhan kepada setiap ummatnya. Kemurnian cinta
seringkali dikotori oleh ulah ummatnya sendiri. Menunjukkan rasa cinta bukan
berarti dengan mengekspresikannya secara agresif. Pacaran yang sudah menjadi
tradisi saat ini sangat tidak benar untuk mengungkapkan rasa cinta itu. Pacaran
bukanlah akhir pelabuhan dari perjalan cinta tersebut, kekuatan cinta saat
pacaran tidaklah kuat. Menunjukkan cinta bukan dengan pacaran melainkan
mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menjemput cinta sejati.
(Terbit di Analisa)
Penulis adalah Alumni UMSU dan Guru SIT
IQRA’
Ditunggu ya sis artikel yang lainnya 😊
BalasHapus