Sabtu, 14 Juli 2018

Ilmu Bukan Dihafal, Namun Difahami

     Ilmu adalah pelita dalam kehidupan, sebab dengan adanya ilmu kita bisa menjadi tau dari apa yang tidak kita ketahui. Hakikatnya ilmu sangat penting dalam kehidupan kita agar hidup kita punya tujuan dan arah yang baik. Untuk mencapai semua impian-impian, ilmu sangat dibutuhkan.  Dalam Islam kita dianjurkan untuk mencari ilmu seperti pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China ". Allah juga akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu karena begitu pentingnya ilmu. 

     Jika melihat hakikat ilmu, kita pasti akan benar-benar mencari ilmu dan menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya. Namun realita hari ini ilmu bukan menjadi tujuan utama melainkan hanya formalitas untuk mendapatkan gelar. Bahkan lebih miris kita sudah lazim mendengar kalimat "ilmu bisa dibeli", ini sungguh sangat menyedihkan. Pantas saja jika banyak pengangguran di negara kita, meskipun memiliki ijazah sarjana bahkan lebih dari itu. Pola fikir seperti ini salah dan harus dirubah. Selain itu, hal ini juga dikarenakan dalam proses pencapainnya kebanyakan orang menggunakan konsep yang salah. Kita masih menggunakan sistem menghafal dalam menerima ilmu. Perlu kita ketahui bahwa hafalan itu akan mudah hilang, melihat daya ingat manusia tidak pernah stabil dan setiap manusia memiliki daya ingat yang berbeda-beda. 

     Dalam sebuah film India klasil berjudul "3 idiot" menceritakan bahwa ilmu bukanlah dihafal melainkan difahami. Dalam film tersebut terlihat jelas maknanya ketika salah satu tokoh film tersebut bernama Chatur berpidato di depan khalayak ramai dalam acara hari guru dengan metode menghafal menggunakan Bahasa India. Kejahilan temannya mengubah beberapa kata dengan kata yang tidak lazim membuat si Chatur dipermalukan dalam pidatonya. Hal ini terjadi karena Chatur tidak memahami isi pidatonya sebab ia asyik dengan hafalannya. 

     Metode menghafal sangatlah bagus, namun alangkah baiknya diiringi dengan pemahaman. Selayaknya kita membaca ayat-ayat Al Quran kita diperintahkan menghafal, memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan
kita sehari-hari. Hal ini sudah sangat jelas bahwa dalam menerima ilmu jangan hanya mengandalkan metode menghafal melainka kita juga memahami maksud dari ilmu tersebut.

     Misalkan kita ingin meruqyah atau membaca surah dalam Al Quran dalam ruqyah tersebut, maka kita harus memahami ayat demi ayat yang kita baca agar apa yang kita baca dapat memancarkan kekuatan. Jika kita hanya membaca tanpa memahaminya yakinlah kita tidak akan berhasil dalam hal tersebut. Hal ini seperti dijelaskan Allah dalam firmannya ;

Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. Fushshilat {41} ; 44).

     Begitu halnya kita sebagai guru atau dai, sebelum kita menyampaikan kepada orang lain maka terlebih dahulu kita memahaminya. Niscaya jika kita faham maka apa yang kita sampaikan akan mudah difahami oleh orang yang mendengarkan kita. 

     Masih menyambung cerita tentang film 3 Idiot, bahwa dalam film tersebut banyak pelajaran yang bisa kita ambil tentang penerapan ilmu. Film yang dibintangi oleh Amir Khan tersebut mengajarkan kita bahwa ilmu dan kemampuan tidak dapat dipisahkan. Setiap orang memiliki kemapuan dan minat masing-masing yang tidak bisa kita paksakan. Maka jika kita ingin melangkah mencari ilmu, carilah ilmu yang kita minati dan membuat kita nyaman serta senang. Ilmu bukan hanya selembar ijazah melainkan sebuah kemampuan yang siap kita implementasikan dalam kehidupan dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat, carilah ilmu dengan iman. 
(EJ/18) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar