Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Surat Nisa untuk Teman-Teman di Palestina

Oleh: Eva Juliyanti
Kring….kring….kring….
Alarm berbunyi dari kamar Nisa, Alarm itu terdengar hingga ke dapur. Nisa belum juga bangun meskipun alarm berbunyi begitu kencang. Ibu Nisa mendatangi kamar Nisa untuk membangunkannya karena Nisa harus segera bersiap-siap untuk pergi sekolah.
“Nisa..Nisa…bangun Nak, entar kamu telat ke sekolah.”
“Hmmm…masih ngantuk Bu,”Nisa menarik selimutnya kembali.
“Ya sudah, kalau kamu tidak mau bangun, Ibu tidak akan mengabulkan permintaan kamu.”
Nisa tersentak kaget dan segera terbangun sambil menarik tangan ibunya.
“Ibu jangan, Nisa uda bangun kok dan Nisa janji akan menurut apa kata Ibu, tapi ibu juga harus janji ibu akan mengabulkan permintaan Nisa untuk membantu Nisa mengirim surat kepada pak presiden untuk membantu saudara kita yang ada di Palestina”
“Iya nak, uda buruan mandi entar terlambat masuk sekolahnya. Ibu mau menyiapkan sarapan dulu.”
“Ok Bu..”
Nisa pergi sekolah diantar oleh supir pribadinya, Nisa anak yang cerdas dan ramah dengan semua orang. Nisa suka membantu sesama teman karena Ayah dan Ibu Nisa jadi orang tidak boleh sombong dan berat tangan untuk membantu sesama. Kita hidup di dunia ini tidak sendirian, kita punya teman, saudara, keluarga, tetangga dan masyarakat lainnya. Kita harus saling membantu siapapun itu, baik orang miskin maupun orang kaya.
“Selamat pagi bu guru, selamat pagi bu kantin, selamat pagi teman-teman.” Sapa Nisa sambil berjalan menuju kelas.
            Nisa sekarang duduk di kelas 5 SD, Nisa menjadi bintang kelas setiap tahunnya. Selain Nisa pintar, sifat solidaritas dan kepedulian Nisa juga tinggi. Nisa suka membantu teman-temannya ketika kesulitan dalam mengerjakan tugas.
“Bu guru datang.” Seru teman-teman Nisa
“Selamat pagi anak-anak, ayo ketua kelas siapkan”
“Bersiap, ucap salam”
“Selamat pagi bu guru…” Ucap kami serentak
“Selamat pagi anak-anak, silakan duduk!”
“Sebelum kita belajar mari kita membaca doa menurut agama masing-masing.”
“Baik anak-anak, hari ini kita akan belajar berhitung coba kalian keluarkan bukunya!”
“Bu…” Nisa mengacungkan tangan telunjuknya.
“Ada apa Nisa?” Jawab Bu guru
“Ibu melihat tahu tidak saudara kita di Palestina sedang menangis” Ujar Nisa dengan polosnya
“Iya, ibu tahu kok, ibu juga sedih melihatnya yang bisa kita lakukan sekarang untuk saudara kita di Palestina adalah mendoakannya”
“Bu, selain medoakannya apalagi yang bisa kita lakukan?” Tanya Deni
“Kita dapat menyumbangkan barang seperti baju, tas dan dapat menyumbangkan uang” Jawab bu guru.
“Kita menyumbangkannya langsung datang ke Palestina ya Bu?” Tanya Sri
“Tidak Sri, kita dapat menitipkan sumbangan kita kepada lembaga-lembaga yang merupakan relawan pengumpul dana untuk saudara kita di Palestina. Nah kalau kalian mau menyumbangkan barang atau uang kalian minta bantuan sama orang tua, atau melalui ibu juga bisa. Biasnya kalau kita ingin menyumbangkan uang melalui rekening atau pergi ke bank.”
‘”Oooghh.. begitu ya Bu.” Jawab serentak
“Bu, saya ingin mengirim surat ke teman-teman yang ada di Paletina, bisa kan Bu dan bagaimana caranya?” Tanya Nisa dengan menggebu-gebu.
“Bisa, kita dapat mengirim surat kita melalui pos.”
“Nisa mau kirim surat buat teman-teman di Palestina Bu dan Ibu Nisa sudah janji mau membantu Nisa untuk mengirimnya ke Palestina.”
“Saya juga mau membantu teman-teman di Palestina, saya mau menyumbangkan uang tabungan saya Bu.” Ujar Deni dengan semangat membara
“Iya Bu…” Jawab serentak
“Bagus kalau begitu, Ibu bangga dengan kalian.” Ucap Ibu Guru dengan bangga.
            Nisa menulis surat untuk teman-teman di Palestina di kamar Nisa yang penuh dengan boneka Barbie. Nisa sangat senang dengan boneka Barbie, wajar saja kalau di kamar Nisa banyak boneka Barbie. Ada boneka Barbie kesayangan Nisa, boneka itu adalah hadiah dari Almh. Nenek Nisa. Nisa ingin memberikan boneka Barbie untuk teman-teman di Palestina termasuk boneka kesayangannya itu.
“Tok..tok..tok..Nisa..”
“Iya Bu, masuk..”
“Nisa kok belum tidur?” Tanya Ibu sembari membelai rambut Nisa yang tergurai.
“Nisa sedang menulis surat untuk teman-teman di Palestina Bu dan Nisa ingin menyumbangkan boneka Barbie Nisa Bu?”
“Termasuk boneka dari Almh. Nenek ini?” Ibu mengambil boneka Barbie kesayangan Nisa
“Iya Bu, Nisa rela kok kalau boneka Nisa disumbangkan. Nenek pasti senang jika boneka pemberiannya dapat menghibur teman-teman Nisa di Palestina.” Nisa memeluk Ibunya sambil memandangi boneka Barbie kesayangnnya.
Ibu menemani Nisa menulis surat untuk teman-teman Nisa di Palestina. Nisa sangat bersemangat menulis kata demi kata di kertas puti dihiasi bunga-bunga berwarna pink. Tidak sadar Nisa sambil menulis air mata Nisa terjatuh, sehingga kertasnya ada bercak air mata.
“Nisa, kamu kenapa kok menangis?” Tanya Ibu heran karena Nisa menangis tersedu-sedu.
“Surat Nisa sudah selesai Bu, Ini dia..”

Dari : Nisa
Untuk teman-teman Nisa di Palestina
Assalamualaikum,
Saya Nisa di Indonesia, saya mengirim surat ini untuk teman-teman di Palestina dan saya juga ada boneka-boneka Barbie untuk teman-teman. Nisa tau kalian di sana sedang menangis, rumah kalian hancur terkena bom dan kalian kehilangan keluarga kalian dan teman-teman kalian.
Tapi jangan bersedih teman, Nisa di sini selalu mendoakan kalian selamat dan dilindungi Allah swt. Nisa iri melihat kalian karena kalian anak-anak yang kuat dan tegar. Meskipun kalian telah kehilangan rumah, keluarga dan teman-teman kalian tetap ceria.
Nisa ingin bermain bersama kalian, suatu saat nanti Nisa akan ke negara kalian untuk mengunjungi kalian di sana. Kita bisa bermain bersama, kita bisa bersatu untuk melawan orang-orang yang telah menghancurkan rumah, keluarga dan teman-teman kita.
Pesan Nisa, jangan bersedih ya!
Nisa selalu bersama kalian kok, begitu juga Allah. Allah selalu melindungi kalian karena Allah tidak tidur.

Salam sayang dari Nisa


Kamis, 06 April 2017

Ketika Tuhan Menitipkan Cinta
Oleh: Eva Juliyanti
            Tuhanku, berikan ku cinta yang Kau titipkan
            Bukan cinta yang pernah ku tanam
Sebuah lirik lagu sebagai motivasiku dalam mencari cinta sejati. Aku yakin Tuhan akan memberikanku pendamping hidup yang sesuai dengan kebutuhan hidupku bukan apa yang aku inginkan. Aku yakin pendamping dari Tuhan itulah yang terbaik, tidak seperti cinta yang timbul dari nafsuku.
Persoalan cinta aku memang bukan ahlinya atau pakarnya. Aku orang yang susah untuk jatuh cinta dengan orang lain, kalau untuk sekedar kagum atau suka itu sering aku alami. Sikap dingin aku untuk jatuh cinta karena aku mempunyai prinsip jangan jatuh cinta tapi bangunlah cinta. Selain, lirik di atas kata pamungkasku untuk menemukan cinta sejatiku adalah kata-kata itu.
“Riva….Riva…Tunggu….!!!”
“Eh…Suci, ada apa?”
“Kita masuk jam berapa dan di ruang mana hari ini?”Tanya Suci dengan nafas yang masih belum terkontrol.
“Kita masuk pukul 13.30 WIB di ruangan biasa, Ci. Ini aku mau ke kelas karena mau mengerjakan tugas dari Ibu itu.”
“Memang ada tugas ya Va?. Kok aku lupa ya”Suci menggaruk kepalanya sembari senyum muka bersalah.
“Hmm…kamu ini kebiasaan deh, giliran tugas aja lupa coba giliran cowok selalu ingat. Dasar…..”
“Dasar cewek pengagum pria dan cinta tidak jelas, pasti itukan yang mau kau ucapkan …”Suci sudah mengetahui kelanjutan dari kata-kataku.
“Nah, itu sudah tau” Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku Suci.
            Suci adalah teman sekelasku, anaknya itu pengagum cinta banget berbanding terbalik dengan aku yang kurang doyan dengan cinta-cinta semu dan tidak jelas gitu. Terkadang aku heran melihat suci dan teman-teman lainnya yang suka dipermainkan dengan cinta semu dan tidak jelas ujungnya itu. Suci ini suka sekali dengan cinta seperti itu dan jika kupertanyakan yakinkah kalau cintamu saat ini akan menjadi cinta sejati?. Suci tidak pernah memberikan jawaban yang menyakinkana aku.
            Aku bukannya tidak percaya atau meragukan cinta Suci dan teman-teman yang sedang bermain dengan cinta semu itu. Aku juga pernah jatuh hati, memendam rasa suka dan kagum terhadap lawan jenisku karena bagiku itu hal yang normal dan wajar. Namun, aku bersyukur dapat mengendalilan cintaku sehingga aku tidak terperdaya dengan cinta semu itu dan aku yakin cinta sejati itu adalah cinta dari Tuhan.
            Masjid di kampus adalah tempat favoritku, aku merasa nyaman dan sejuk jika berada di masjid. Wajar saja jika teman-temanku sulit menemukanku, mereka tinggal pergi ke masjid di kampus aku pasti ada di situ. Pohon melinjo yang ada di masjid menjadi teman ngobrolku dan keteduhan hati bagiku. Aku sempat bertanya pada pohon itu.
“Pohon apakah kau mempunyai cinta sejati dan kapan kau mendapatkan cinta sejati itu?”
Pohon itu hanya menjawab dengan mengayunkan ranting dan daun-daun hijaunya dengan lemah gemulai. Itu artinya pohon itu sudah mendapatkan cinta sejatinya dan waktunya itu tidak dapat diprediksikan, begitulah arti dari lambaian pohon itu.
“Assalamualaikum ukh…” Salam seorang wanita yang ada di hadapanku dan mengulurkan tangannya.
“Waalaikumsalam ukh, ada apa ukhty Sri?” Aku menyambut uluran tangannya dan saling bersatu memperat tali silahturahmi.
“Ana lihat, ukhty sedang melamun memang apa yang sedang dilamunkan ukh?” Sri mengetahui pembicaraanku dengan pohon melinjo itu.
“Hehe… begini ukh ana masih bingung dengan cinta sejati, apakah cinta sejati akan datang dengan sendirinya atau harus kita jemput ukh?”
“Cinta sejati itu adalah cinta yang tumbuh saat kita sudah halal baginya. Cinta itu akan bersemi saat ijab qobul telah terkumandang. Cinta sejati itu cinta yang berani berkomitmen, bukan cinta yang diumbar-umbarkan. Untuk mendapatkan cinta sejati kita harus melihat diri kita terlebih dahulu.” Sri menjawab dengan penghayatan seakan-akan ia sudah mendapatkan cinta sejati itu.
“Maksud ukhty, kita harus melihat diri kita untuk mendapatkan cinta sejati itu  bagaimana ukh?”Tanyku dengan nada bingung.
“Kalau kita ingin mendapatkan cinta sejati yang kita inginkan maka kita harus mempersiapkan diri, muhasabah diri, memperbaiki diri menjadi sosok yang kita inginkan untuk menjadi cinta sejati kita .”
“Ana masih belum paham ukh?”
“Begini saudariku yang kucintai karena Allah, jika ukhty menginginkan pendamping hidup yang soleh dan taat kepada Allah ukhty harus bisa menjadi wanita yang soleha dan taat kepada Allah juga. Sebab, jodoh kita itu adalah cerminan dari diri kita saat ini.”
“Oooo…begitu ya ukh, aku sudah paham sekarang.” Ujarku sambil menatap pohon melinjo itu. Pohon itu terseyum kepadaku.
“Iya ukh, memang ukhty Riva sudah menginginkan cinta sejati itu ya?”
“Hehe… iya ukh karena aku bosan dengan cerita cinta semu dari teman-teman aku. Mereka kok mau ya dipermainkan dengan cinta yang tidak tau endingnya.”
“Itulah bedanya cinta karena nafsu dan cinta dari Allah” Sri memukul pundakku untuk menyadarkanku akan kekuatan cinta Allah.
“Seperti lagunya Maidani ya  kan ukh?”
“Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam.” Kami mendendangkan lirik lagi secara bersamaan.
Legah rasanya mendapatkan kepastian akan cinta sejati itu seperti apa dan bagaimana cara mendapatkannya. Aku sekarang akan memperbaiki seluruh tindakan dan perbuatan untuk menjadi pribadi yang baik, agar aku mendapatkan pendamping hidup yang baik pula.
Waktu berlalu dengan cepat, secepat angin tornado. Usiaku kini semakin berkurang di dunia ini dan akupun sudah menduduki bangku kuliah terakhir. Permintaan orang tuaku selain segera wisuda juga segera menikah. Aku mulai gelisah, di mana aku sedang mengejar target untuk wisuda di satu sisi aku harus mengejar jodohku juga. Ah, aku yakin jodohku pasti datang dan sesuai dengan kepribadianku saat ini.
“Assalamualikum ukhty?” Sapa pria berjenggot tipis, memakai celana goyang dan kemeja berbalut jaket.
“Waalaikumsalam”Aku terpelongoh sebab sosok pria itu seperti sosok pria yang aku idamkan saat ini.
“Kamu Riva kan?”
“iiiiii..iiii…yaaa..”Aku gugup, jantungku seperti genderang yang mau peranng.
“Ini ada surat dan undangan buat ukhty..”Pria itu memberikan kotak berwarna merah darah dihiasi pita.
“Dari siapa ya?”Tanyaku masih belum percaya, sebab aku baru saja berbicara dengan pohon melinjo itu tentang pria calon pendampingku dan sekarang sosok pria itu sudah di depan mataku, namun aku tidak boleh memandangnya.
“Entar kamu juga akan mengetahui itu dari siapa dan jika kamu sudah membacanya kamu dapat membalasnya via sms saja karena di dalamnya sudah tertera nomor handphonenya.”
“Iya…” Aku mengangguk dengan tatapan tak percaya di pohon melinjo itu.
“Aku pergi dulu ya ukh, Assalamualaikum..” Pria itu bergegas pergi masuk ke dalam masjid.
“Waalaikumsalam....” Aku penasaran dengan isi dalam kotak itu yang katanya ada surat, nomor handphone dan undangan.

“Ya…Allah apakah dia pria yang kau titipkan buatku?”