Ketika Tuhan Menitipkan
Cinta
Oleh: Eva Juliyanti
Tuhanku,
berikan ku cinta yang Kau titipkan
Bukan
cinta yang pernah ku tanam
Sebuah lirik lagu sebagai motivasiku dalam mencari
cinta sejati. Aku yakin Tuhan akan memberikanku pendamping hidup yang sesuai
dengan kebutuhan hidupku bukan apa yang aku inginkan. Aku yakin pendamping dari
Tuhan itulah yang terbaik, tidak seperti cinta yang timbul dari nafsuku.
Persoalan cinta aku memang bukan ahlinya atau
pakarnya. Aku orang yang susah untuk jatuh cinta dengan orang lain, kalau untuk
sekedar kagum atau suka itu sering aku alami. Sikap dingin aku untuk jatuh
cinta karena aku mempunyai prinsip jangan
jatuh cinta tapi bangunlah cinta. Selain, lirik di atas kata pamungkasku
untuk menemukan cinta sejatiku adalah kata-kata itu.
“Riva….Riva…Tunggu….!!!”
“Eh…Suci,
ada apa?”
“Kita
masuk jam berapa dan di ruang mana hari ini?”Tanya Suci dengan nafas yang masih
belum terkontrol.
“Kita
masuk pukul 13.30 WIB di ruangan biasa, Ci. Ini aku mau ke kelas karena mau
mengerjakan tugas dari Ibu itu.”
“Memang
ada tugas ya Va?. Kok aku lupa ya”Suci menggaruk kepalanya sembari senyum muka
bersalah.
“Hmm…kamu
ini kebiasaan deh, giliran tugas aja lupa coba giliran cowok selalu ingat.
Dasar…..”
“Dasar
cewek pengagum pria dan cinta tidak jelas, pasti itukan yang mau kau ucapkan
…”Suci sudah mengetahui kelanjutan dari kata-kataku.
“Nah,
itu sudah tau” Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku
Suci.
Suci adalah teman sekelasku, anaknya
itu pengagum cinta banget berbanding terbalik dengan aku yang kurang doyan
dengan cinta-cinta semu dan tidak jelas gitu. Terkadang aku heran melihat suci
dan teman-teman lainnya yang suka dipermainkan dengan cinta semu dan tidak
jelas ujungnya itu. Suci ini suka sekali dengan cinta seperti itu dan jika
kupertanyakan yakinkah kalau cintamu saat ini akan menjadi cinta sejati?. Suci
tidak pernah memberikan jawaban yang menyakinkana aku.
Aku bukannya tidak percaya atau
meragukan cinta Suci dan teman-teman yang sedang bermain dengan cinta semu itu.
Aku juga pernah jatuh hati, memendam rasa suka dan kagum terhadap lawan jenisku
karena bagiku itu hal yang normal dan wajar. Namun, aku bersyukur dapat
mengendalilan cintaku sehingga aku tidak terperdaya dengan cinta semu itu dan
aku yakin cinta sejati itu adalah cinta dari Tuhan.
Masjid di kampus adalah tempat
favoritku, aku merasa nyaman dan sejuk jika berada di masjid. Wajar saja jika
teman-temanku sulit menemukanku, mereka tinggal pergi ke masjid di kampus aku
pasti ada di situ. Pohon melinjo yang ada di masjid menjadi teman ngobrolku dan
keteduhan hati bagiku. Aku sempat bertanya pada pohon itu.
“Pohon
apakah kau mempunyai cinta sejati dan kapan kau mendapatkan cinta sejati itu?”
Pohon itu hanya menjawab dengan mengayunkan ranting
dan daun-daun hijaunya dengan lemah gemulai. Itu artinya pohon itu sudah
mendapatkan cinta sejatinya dan waktunya itu tidak dapat diprediksikan,
begitulah arti dari lambaian pohon itu.
“Assalamualaikum ukh…” Salam seorang wanita yang ada
di hadapanku dan mengulurkan tangannya.
“Waalaikumsalam ukh, ada apa ukhty Sri?” Aku
menyambut uluran tangannya dan saling bersatu memperat tali silahturahmi.
“Ana lihat, ukhty sedang melamun memang apa yang
sedang dilamunkan ukh?” Sri mengetahui pembicaraanku dengan pohon melinjo itu.
“Hehe… begini ukh ana masih bingung dengan cinta
sejati, apakah cinta sejati akan datang dengan sendirinya atau harus kita
jemput ukh?”
“Cinta sejati itu adalah cinta yang
tumbuh saat kita sudah halal baginya. Cinta itu akan bersemi saat ijab qobul
telah terkumandang. Cinta sejati itu cinta yang berani berkomitmen, bukan cinta
yang diumbar-umbarkan. Untuk mendapatkan cinta sejati kita harus melihat diri
kita terlebih dahulu.” Sri menjawab dengan penghayatan seakan-akan ia sudah
mendapatkan cinta sejati itu.
“Maksud ukhty, kita harus melihat
diri kita untuk mendapatkan cinta sejati itu
bagaimana ukh?”Tanyku dengan nada bingung.
“Kalau kita ingin mendapatkan cinta
sejati yang kita inginkan maka kita harus mempersiapkan diri, muhasabah diri,
memperbaiki diri menjadi sosok yang kita inginkan untuk menjadi cinta sejati
kita .”
“Ana masih belum paham ukh?”
“Begini saudariku yang kucintai
karena Allah, jika ukhty menginginkan pendamping hidup yang soleh dan taat
kepada Allah ukhty harus bisa menjadi wanita yang soleha dan taat kepada Allah
juga. Sebab, jodoh kita itu adalah cerminan dari diri kita saat ini.”
“Oooo…begitu ya ukh, aku sudah
paham sekarang.” Ujarku sambil menatap pohon melinjo itu. Pohon itu terseyum
kepadaku.
“Iya ukh, memang ukhty Riva sudah
menginginkan cinta sejati itu ya?”
“Hehe… iya ukh karena aku bosan
dengan cerita cinta semu dari teman-teman aku. Mereka kok mau ya dipermainkan
dengan cinta yang tidak tau endingnya.”
“Itulah bedanya cinta karena nafsu
dan cinta dari Allah” Sri memukul pundakku untuk menyadarkanku akan kekuatan
cinta Allah.
“Seperti lagunya Maidani ya kan ukh?”
“Tuhanku berikanku cinta yang Kau
titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam.” Kami mendendangkan lirik lagi
secara bersamaan.
Legah rasanya mendapatkan kepastian
akan cinta sejati itu seperti apa dan bagaimana cara mendapatkannya. Aku
sekarang akan memperbaiki seluruh tindakan dan perbuatan untuk menjadi pribadi
yang baik, agar aku mendapatkan pendamping hidup yang baik pula.
Waktu berlalu dengan cepat, secepat
angin tornado. Usiaku kini semakin berkurang di dunia ini dan akupun sudah
menduduki bangku kuliah terakhir. Permintaan orang tuaku selain segera wisuda
juga segera menikah. Aku mulai gelisah, di mana aku sedang mengejar target
untuk wisuda di satu sisi aku harus mengejar jodohku juga. Ah, aku yakin
jodohku pasti datang dan sesuai dengan kepribadianku saat ini.
“Assalamualikum ukhty?” Sapa pria
berjenggot tipis, memakai celana goyang dan kemeja berbalut jaket.
“Waalaikumsalam”Aku terpelongoh
sebab sosok pria itu seperti sosok pria yang aku idamkan saat ini.
“Kamu Riva kan?”
“iiiiii..iiii…yaaa..”Aku gugup,
jantungku seperti genderang yang mau peranng.
“Ini ada surat dan undangan buat
ukhty..”Pria itu memberikan kotak berwarna merah darah dihiasi pita.
“Dari siapa ya?”Tanyaku masih belum
percaya, sebab aku baru saja berbicara dengan pohon melinjo itu tentang pria calon
pendampingku dan sekarang sosok pria itu sudah di depan mataku, namun aku tidak
boleh memandangnya.
“Entar kamu juga akan mengetahui
itu dari siapa dan jika kamu sudah membacanya kamu dapat membalasnya via sms
saja karena di dalamnya sudah tertera nomor handphonenya.”
“Iya…” Aku mengangguk dengan
tatapan tak percaya di pohon melinjo itu.
“Aku pergi dulu ya ukh,
Assalamualaikum..” Pria itu bergegas pergi masuk ke dalam masjid.
“Waalaikumsalam....” Aku penasaran
dengan isi dalam kotak itu yang katanya ada surat, nomor handphone dan
undangan.
“Ya…Allah apakah dia pria yang kau
titipkan buatku?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar