Kamis, 25 April 2019


“Keanarkisan ” Pribadi Anak Bangsa ?

Oleh : Eva Juliyanti

            Aksi anarkis dewasa ini kian marak dilakukan oleh pelajar/ mahasiswa bahkan para wakil rakyat. Anarkis ini dilakukan sebab ketidakpuasan terhadap suatu keputusan pemerintah. Rasa itu diluapkan dengan melakukan aksi yang membabi buta, khususnya para pelajar merusak fasilitas umum yang berada di wilayah mereka melakukan aksi tersebut. Beda halnya dengan wakil rakyat  melakukan sikap anarkis dengan menggrogoti harta Negara.
            Aksi menyimpang itu sangat mengganggu masyarakat dan mencoreng kepercayaan masyarakat. Selama ini masyarakat memeberikan amanah kepada mereka sebagai wadah dan yang mengatas namakan suara rakyat untuk mengapresiasikan jeritan rakyat. Namun kenyataannya, mereka  menodai dengan aksi memalukan itu.
            Jika ditilik penyebab dari aksi krimainal bagi pelajar atau mahasiswa khususnya ini tidak lepas dari peranan orang tua. Dalam pembentukan karakter orang tua mempunyai peranan sangat penting. Orang tua adalah seseorang yang sangat dekat dibandingkan dengan  lainnya.
            Orang tua tidak bisa melepas tanggung jawab terhadap hak asuh anak bergitu saja kepada pihak yang diberi kepercayaan sebagai wadah pendidik anak. Para pendidik yang disebut dengan guru ini tidak sepenuhnya dapat mengawasi peserta didiknya. Kelalaian orang tua berakibat fatal terhadap perilaku anak.
Beda pula halnya dengan sikap anarkis dari para wakil rakyat, factor mereka melakukan sikap anarkis ini kebanyakan mementingkan kekuasaan semata. Kursi jabatan, uang berlimpah, kehormatan dan sebagainya menjadi piyoritas utama mereka, tugas mereka sebagai wakil rakyat terbang dibawa angin tornado.
Demi meraih itu semua segala cara akan ditempuhnya. Cara halal dan tidak halal sudah tidak dapat dibedakan lagi karena mereka sudah buta, buta akan kedudukan dan kekuasaan yang serasa di surga itu. Korupsi merupakan tradisi dan jalan alternative untuk mendapatkan semua itu. Muka sudah tebal, rasa malu sudah hilang.
Berbicara tentang sikap ada yang namanya sikap dewasa. Seseorang dikatakan dewasa jika dia dapat menghadapi masalah dengan tenang. Taraf kedewasaan tidak dapat ditentukan dari segi factor usia, usianya sudah dewasa belum tentu sikapnya dewasa dan sebaliknya.
            Pemikiran masyarakat selama ini semakin tua umur, semakin dewasa pula. Namun pada kenyataannya tidak semua orang seperti itu. Ada usia masih muda dan bisa dibilang belia namun sikapnya sudah dewasa. Kedewasaan dapat dilihat dari bagaimana sesorang menyikapi sebuah masalah dengan bijaksana. Jelas sudah bahwa kedewasaan itu tidak dilihat dari umurnya, melainkan dari pola berfikir dalam bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Dewasa ini sangat relative bukan?
            Anak kecil bermain bersama teman-temannya namun ia berkelahi, secara otomatis anak tersebut akan melakukan segala cara untuk mengalahkan lawannya. Sikap seperti inilah yang disebut tidak dewasa ( Kanak-kanak ). Nampaknya dewasa ini sosok kedewasaan sudah luntur dalam jiwa orang dewasa. Kenapa tidak orang dewasa (Usia) namun bersikap seperti anak-anak.
            Tidak hanya para pelajar atau mahasiswa yang notabene masih menganyam dunia pendidikan untuk menuju ke jenjang kedewasaan yang hakiki yang bersifat Kekanak-kanakan namun para wakil rakyat yang duduk dikursi dewan tak luput dari cap Kekanak-kanakan. Bayangkan saja mereka melakukan segala cara untuk saling menjatuhkan satu sama lain dan demi merebut suatu posisi mereka saling berkhianat dan saling menyabet.


 Lunturnya empat pilar kebangsaan
            Sikap yang ditunjukan oleh para wakil rakyat ini sangat miris, empat pilar kebangsaan yang gencar dicanangkan oleh Alm. Taufik Kiemas yakini, Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika sudah luntur dengan sikap mereka. Alm. Taufik kiemas mensosialisasikan ke empat pilar kebangsaan ini untuk menjadikan masyarakat menjadi masyarakat yang berbangsa dan bernegara yang mempunyai moralitas tinggi.
            Pancasila sebagai dasar Negara ini jika dipahami maknanya dari sila pertama sampai sila kelima maka tidak akan terlahir masyarakat yang rendah akan moral, akhlak dan sifat Kekanak-kanakkan. Seperti sepenggal lagu Pancasila berikut ini :
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil, makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju-maju…Ayo maju-maju…Ayo maju-maju
            Jika masyarakat mengamalkan pancasila niscaya Negara ini akan maju dan berkemabang dari segi manapun dengan itu akan ikut serta bersaing dengan Negara maju lainnya. Namun kenyataannya sekarang ini Indonesia sudah melupakan pondasi negaranya yaitu Pancasila. Bagaimana tidak para wakil rakyat sendiri yang menunjukkan akan hal itu.
            Wakil rakyat panutan masyarakat sudah tidak memberikan contoh yang baik , jadi wajar saja jika masyrakatnya pun ikut bersikap seperti mereka. Bahkan kehormatan yang seharusnya mereka terima kini sulit diterima, kenapa tidak mereka sendiri yang menodai kehormatan mereka. Seperti halnya lirik lagu Iwan Fals berikut ini yang menyindir wakil rakyat :
            Wakil rakyat seharusnya merakyat
            Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Tak jauh beda dengan pengamalan pancasila, ketiga pilar kebangsaan lainnya UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ikapun sudah dilupakan. Ditambah lagi dengan marakanya budaya asing dengan mudahnya masuk ke Negara ini tanpa adanya filter. Filternya saja sudah rusak dan dibuang ke tong sampah. Kata perdamaian sudah jauh dari Indonesia, Negara yang terkenal dengan ramah ini.
Peperangan kian semarak terjadi, baik perang senjata maupun perang pendapat. Saling menjatuhkan, bunuh-bunuhanpun tak terelakkan lagi, mereka telah membunuh saudara mereka sendiri. Misalnya saja di Ambon sering terjadi perang antar suku dan perang agama yaitu dengan datangnya aliran Ahmadiyah.
            Dengan mengamalkan empat pilar kebangsaan ini maka sifat kedewasaan akan meningkat dan tumbuh dengan elaktabilitas yang tinggi pula. Dengan sendirinya akan mengurangi sifat anarkis yang selama ini terjadi baik dikalangan pelajar/ mahasiswa maupun para wakil rakyat yang bertugas  mengayomi rakyat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar