Sabtu, 27 April 2019


Hari Puisi Nasional
 Meningkatkan Eksistensi  Puisi di Zaman Milenial
Eva Juliyanti

            Hari Puisi Nasional masih menjadi kontroversi antara tanggal 28 April dan 26 Juli, kedua tanggal tersebut memiliki sejarah tersendiri. Pada tanggal 26 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia. Hari tersebut sudah dideklarasikan 7 tahun lalu, tepatnya tanggal 22 November 2012. Peringatan Hari Puisi Indonesia juga bukan pada tanggal wafatnya Chairil Anwar, tapi pada hari lahirnya, yaitu 26 Juli.
Deklarasi dan penetapan Hari Puisi Indonesia itu dilakukan oleh puluhan penyair Indonesia di Pekanbaru, Riau, 22 November 2012 silam. Setelah ditandatangani para penyair, teks deklarasi dibacakan oleh presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sejumlah penyair yang ikut mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Panda MT Siallagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Kepulauan Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau).
Setelah dideklarasikan, peringatan Hari Puisi Indonesia telah berlangsung rutin mulai tahun 2013, 2014 dan 2015. Bahkan, untuk menyokong konsistensi perayaan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Hari Puisi telah didirikan atas inisiatif penyair Rida K Liamsi. Yayasan ini telah menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia setiap tahun dengan berbagai acara, termasuk menyelenggarakan Anugerah Hari Puisi, yaitu penghargaan atas buku puisi terbaik.
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.
Pekanbaru, 22 November 2012
Selain itu,pada tanggal 28 April muncul sebagai Hari Puisi Nasional.Hal ini masih berkaitan dengan penyair Chairil Anwar, Ia wafat tanggal 28 April. Chairil lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta tangal 28 April 1949 pada usia 26 tahun. Penyair ‘Si Binatang Jalang’ ini hijrah ke Jakarta (Batavia) mengikut ibunya yang bercerai dengan sang suami. Hingga kini, pengagum Chairil Anwar terus bertambah. Puisi-puisi Anwar yang hanya berjumlah 70-an judul itu, juga sangat dikagumi oleh generasi lintas zaman, bahkan hingga era digital ini. Wafatnya Chairil Anwar inilah diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.
***
            Terlepas dari polemik di atas, hari ini telah ditetapkan bahwa Hari Puisi Nasional kita peringati setiap tangga 28 April. Kita tidak perlu lagi mempermasalhkn hal tersebut, yang menjadi masalah hari ini adalah kurangnya minat anak zaman sekarang (milenial) terhadap sastra salah satunya adalah puisi telah menurun bahkan perlahan menghilang.
Pandangan Sastra “Rendah”
Masyarakat hari ini berpandangan tentang sastra atau kesusastraan kerap berada pada tataran bahwa sastra adalah sesuatu yang berat, luhung, dan memiliki nilai-nilai filosofis. Sehingga, sastra yang ditulis oleh manusia sangat berjarak dengan manusia itu sendiri sebagai pembaca. Bahkan sastra itu dianggap kuno,tidak level untuk digeluti.
Pola pikir masyarakat demikian akan menjadi penghambat pergerakkan sastra. Sastra yang seharusnya dilestarikan karena masyarakat yang sudah termomok dengan nilai sastra tersebut.Padahal sastra itu memiliki nilai estetika tersendiri,khusunya puisi ini merupakan sastra yang memiliki nilai tinggi. Dalam puisi ini kita bebas menuangkan perasaan kita dengan permainan kata yang apik.
Rendahnya Minat Membaca
Selain karena pemahaman sastra yang begitu empiris,kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat milenial. Menurut penelitian World’s Most Literate Nations yang dirilis oleh Central Connecticut University pada Maret 2016 lalu, berdasarkan surveri kegemaran membaca, Indonesia. Penelitian tersebut memang tidak berada hanya dalam ranah kesusastraan saja. Namun, melihat penilaian tersebut, muncul spekulasi bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia di era 2000-an ternyata masih sangat rendah.
Di era milenial saat ini buku sudah mulai ditinggalkan karena semua serba digital. Kecanggihan teknologi memudahkan masyarakat mengakses segala informasi,namun karena hal tersebut buku sudah mulai dilupakan. Padahal sumber paling utama adalah buku,sekalipun informasi yang ada di buku bisa kita dapatkan di internet. Minat baca masyrakat saat ini juga sangat minim,tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas diri kita.
Galakkan Literasi
Melihat polemik tentang rendahnya masyarakat tentang sastra dan membaca maka butuh pergerakkan. Salah satunya adalah dengan menggalakkan kegiatan literasi di segala lini kehidupan kita. Literasi dapat membantu meningkatkan minat membaca, menulis dan budaya  di masyarakat.
Generasi sekarang haus akan pola pikir sastrawi, humanis, dan berbudaya. Banyaknya kerusakan kata-kata anak mengindikasikan negeri ini butuh generasi sastra. Lickona (1992: 14) menegaskan salah satu indikator kerusakan suatu bangsa ialah bad language (penggunaan bahasa dan kata-kata buruk).
Keluarga harus mampu berperan membentuk karakter anak literat, melek sastra, dan berbudaya. Banyak hal yang dapat dilakukan keluarga demi memunculkan generasi literat. Orang tua membacakan dongeng, membangun perpustakaan kecil di rumah dan mengajak cerita anak-anak di rumah. Dengan kebiasaan seperti ini akan memunculkan generasi literasi.
Selain keluarga, lingkungan masyarakat juga memilki peran dalam generasi literasi. Mendirikan Taman Baca Masyarakat di lingkungan sekitar. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca. TBM atau Perpustakaan keliling sudah bertebaran di masyarakat kita. Ini menunjukkan masyarakat sebagian kecil sudah menyadari pentingnya membaca.
Sekolah hari ini harus memiliki program literasi. Pemerintah sudah mewajibkan kegiatan literasi di sekolah. Membudayakan membaca 15 menit sebelum belajar, menerapkan literasi dalam setiap pembelajaran, mendesign kelas literasi (pojok baca, pohon liteasi dll.) sampai dengan membuat kegiatan literasi.  
Banyak saat ini bermunculan lembaga atau organisasi yang menggalakkan literasi. Puisi salah satu bagian dari literasi. Dengan adanya peningkatan literasi maka akan secara otomatis meningkatkan eksistensi puisi di masyarakat. Meningkatnya literasi akan menciptakan penyair-penyair dan penulis puisi.
Lomba-lomba cipta puisi dan mendeklamasi atau membaca puisi di setiap acara baik pendidikan maupun non pendidikan. Membuat pelatihan menulis dan kelas penyair, Dengan demikian akan melahirkan dan membangun cinta masyarakat terhadap puisi. Ditambah lagi puisi adalah ungkapan jiwa/perasaan seseorang.
Saat ini masyarakat adalah penyair. Kenapa? Masyarakat hari ini memiliki akun di medsos. Kita ketahui akun medsos seperti Facebook, Instagram, Path dan lain sebagainya dijadikan sebagai alat menuangkan perasaan yaitu membuat status. Tanpa disadarai dengan membuat status itu dapat dikategorikan sebagai puisi, hal ini beranjak dari pengertian puisi tersebut. Dengan demikian puisi akan memiliki nilai dan tetap eksis di masyarakat.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar