Hari Puisi Nasional
Meningkatkan Eksistensi Puisi di Zaman Milenial
Eva Juliyanti
Hari Puisi Nasional masih menjadi
kontroversi antara tanggal 28 April dan 26 Juli, kedua tanggal tersebut
memiliki sejarah tersendiri. Pada tanggal 26 Juli telah ditetapkan sebagai Hari
Puisi Indonesia. Hari tersebut sudah dideklarasikan 7 tahun lalu, tepatnya
tanggal 22 November 2012. Peringatan Hari Puisi Indonesia juga bukan pada
tanggal wafatnya Chairil Anwar, tapi pada hari lahirnya, yaitu 26 Juli.
Deklarasi dan penetapan Hari Puisi Indonesia itu dilakukan oleh puluhan
penyair Indonesia di Pekanbaru, Riau, 22 November 2012 silam. Setelah
ditandatangani para penyair, teks deklarasi dibacakan oleh presiden penyair
Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sejumlah penyair yang ikut mendeklarasikan
Hari Puisi Indonesia antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Rida K
Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda
(Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat
(Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau),
Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi
(Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak
(Jawa Tengah), Agus R Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay
Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan
Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Panda MT Siallagan (Sumatera
Utara), Jefri Al-Malay (Kepulauan Riau), dan Samson
Rambahpasir (Kepulauan Riau).
Setelah dideklarasikan, peringatan Hari Puisi Indonesia telah berlangsung
rutin mulai tahun 2013, 2014 dan 2015. Bahkan, untuk menyokong konsistensi
perayaan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Hari Puisi telah didirikan atas
inisiatif penyair Rida K Liamsi. Yayasan ini telah menggelar perayaan Hari
Puisi Indonesia setiap tahun dengan berbagai acara, termasuk menyelenggarakan
Anugerah Hari Puisi, yaitu penghargaan atas buku puisi terbaik.
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia
Indonesia dilahirkan
oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai
wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak
yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu
pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia,
mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia
adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair
memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut
membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental
pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak
utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur
kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan
kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi
yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir
Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya
Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber
inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan
terbuka.
Pekanbaru, 22 November 2012
Selain itu,pada tanggal 28 April muncul sebagai Hari Puisi Nasional.Hal ini
masih berkaitan dengan penyair Chairil Anwar, Ia wafat tanggal 28 April.
Chairil lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 26 Juli 1922 dan wafat di
Jakarta tangal 28 April 1949 pada usia 26 tahun. Penyair ‘Si Binatang Jalang’
ini hijrah ke Jakarta (Batavia) mengikut ibunya yang bercerai dengan sang
suami. Hingga kini, pengagum Chairil Anwar terus bertambah. Puisi-puisi Anwar
yang hanya berjumlah 70-an judul itu, juga sangat dikagumi oleh generasi lintas
zaman, bahkan hingga era digital ini. Wafatnya Chairil Anwar inilah diperingati
sebagai Hari Puisi Nasional.
***
Terlepas
dari polemik di atas, hari ini telah ditetapkan bahwa Hari Puisi Nasional kita
peringati setiap tangga 28 April. Kita tidak perlu lagi mempermasalhkn hal
tersebut, yang menjadi masalah hari ini adalah kurangnya minat anak zaman
sekarang (milenial) terhadap sastra salah satunya adalah puisi telah menurun
bahkan perlahan menghilang.
Pandangan Sastra “Rendah”
Masyarakat hari ini
berpandangan tentang sastra atau kesusastraan kerap berada pada tataran
bahwa sastra adalah sesuatu yang berat, luhung, dan memiliki nilai-nilai
filosofis. Sehingga, sastra yang ditulis oleh manusia sangat berjarak dengan
manusia itu sendiri sebagai pembaca. Bahkan sastra itu dianggap kuno,tidak level untuk digeluti.
Pola pikir masyarakat
demikian akan menjadi penghambat pergerakkan sastra. Sastra yang seharusnya
dilestarikan karena masyarakat yang sudah termomok dengan nilai sastra
tersebut.Padahal sastra itu memiliki nilai estetika tersendiri,khusunya puisi
ini merupakan sastra yang memiliki nilai tinggi. Dalam puisi ini kita bebas
menuangkan perasaan kita dengan permainan kata yang apik.
Rendahnya Minat Membaca
Selain karena pemahaman
sastra yang begitu empiris,kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat
milenial. Menurut penelitian World’s Most Literate Nations yang dirilis oleh
Central Connecticut University pada Maret 2016 lalu, berdasarkan surveri kegemaran
membaca, Indonesia. Penelitian tersebut memang tidak berada hanya dalam ranah
kesusastraan saja. Namun, melihat penilaian tersebut, muncul spekulasi bahwa
tingkat baca masyarakat Indonesia di era 2000-an ternyata masih sangat rendah.
Di era milenial saat ini
buku sudah mulai ditinggalkan karena semua serba digital. Kecanggihan teknologi
memudahkan masyarakat mengakses segala informasi,namun karena hal tersebut buku
sudah mulai dilupakan. Padahal sumber paling utama adalah buku,sekalipun
informasi yang ada di buku bisa kita dapatkan di internet. Minat baca masyrakat
saat ini juga sangat minim,tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap
kualitas diri kita.
Galakkan Literasi
Melihat polemik tentang
rendahnya masyarakat tentang sastra dan membaca maka butuh pergerakkan. Salah
satunya adalah dengan menggalakkan kegiatan literasi di segala lini kehidupan
kita. Literasi dapat membantu meningkatkan minat membaca, menulis dan budaya di masyarakat.
Generasi sekarang haus akan pola pikir sastrawi, humanis, dan
berbudaya. Banyaknya kerusakan kata-kata anak mengindikasikan negeri ini butuh
generasi sastra. Lickona (1992: 14) menegaskan salah satu indikator kerusakan
suatu bangsa ialah bad language (penggunaan bahasa dan kata-kata buruk).
Keluarga harus mampu berperan membentuk karakter anak literat,
melek sastra, dan berbudaya. Banyak hal yang dapat dilakukan keluarga demi
memunculkan generasi literat. Orang tua membacakan dongeng, membangun
perpustakaan kecil di rumah dan mengajak cerita anak-anak di rumah. Dengan
kebiasaan seperti ini akan memunculkan generasi literasi.
Selain keluarga, lingkungan masyarakat juga memilki peran dalam
generasi literasi. Mendirikan Taman Baca Masyarakat di lingkungan sekitar.
Menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca. TBM atau Perpustakaan keliling
sudah bertebaran di masyarakat kita. Ini menunjukkan masyarakat sebagian kecil
sudah menyadari pentingnya membaca.
Sekolah hari ini harus memiliki program literasi. Pemerintah
sudah mewajibkan kegiatan literasi di sekolah. Membudayakan membaca 15 menit
sebelum belajar, menerapkan literasi dalam setiap pembelajaran, mendesign kelas
literasi (pojok baca, pohon liteasi dll.) sampai dengan membuat kegiatan
literasi.
Banyak saat ini bermunculan lembaga atau organisasi yang menggalakkan
literasi. Puisi salah satu bagian dari literasi. Dengan adanya peningkatan
literasi maka akan secara otomatis meningkatkan eksistensi puisi di masyarakat.
Meningkatnya literasi akan menciptakan penyair-penyair dan penulis puisi.
Lomba-lomba cipta puisi dan mendeklamasi atau membaca puisi di
setiap acara baik pendidikan maupun non pendidikan. Membuat pelatihan menulis
dan kelas penyair, Dengan demikian akan melahirkan dan membangun cinta
masyarakat terhadap puisi. Ditambah lagi puisi adalah ungkapan jiwa/perasaan
seseorang.
Saat ini masyarakat adalah penyair. Kenapa? Masyarakat hari ini
memiliki akun di medsos. Kita ketahui akun medsos seperti Facebook, Instagram,
Path dan lain sebagainya dijadikan sebagai alat menuangkan perasaan yaitu
membuat status. Tanpa disadarai dengan membuat status itu dapat dikategorikan
sebagai puisi, hal ini beranjak dari pengertian puisi tersebut. Dengan demikian
puisi akan memiliki nilai dan tetap eksis di masyarakat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar