Ketika Selembar “Buku” itu Berarti
Oleh: Eva Juliyanti
Bercerita tentang dua orang kakak
beradik yang masih duduk di sekolah dasar (SD), mereka hidup di sebuah rumah
yang terletak pinggiran kota. Pada awalnya hidup mereka sangat berkecukupan,
namun setelah sang ayah mereka meninggal, hidup mereka berubah drastis. Hidup
mereka tidak mencukupi, selain ibu yang hanya seorang buruh cuci pakaian,
mereka juga terancam putus sekolah. Namun Putri kakak Dias tidak mau menyerah
pada keadaan ini.
Langkah kecil
dua orang bocah, Putri dan Dias setia menyusuri pinggiran sungai. Kehilangan
sosok seorang ayah membuat keluarga mereka harus hidup di bawah garis
kemiskinan. Meski begitu, Putri dan Dias tidak pernah menyerah untuk selalu
tetap sekolah. Keterbatasan dana selalu disikapi mereka dengan optimis.
Walaupun baru berusia 10 tahun dia
selalu memberi semangat kepada Ibu dan adiknya Dias. Setiap sepulang sekolah,
Putri dan Dias selalu pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari buku-buku
bekas untuk mereka belajar. Dan setiap malam setelah belajar, mereka memisah –
misahkan buku tulis yang masih kosong lalu di lem kembali untuk mereka menulis
catatan yang diberikan guru. Mengikat sepatu yang
hampir kehilangan tapaknya, hingga menjaga ibu yang selalu sakit-sakitan.
Itulah sepenggal cerita dari Film karya Dedy Wafer yang berjudul “Selembar Itu
Berarti”.
Film
yang berdurasi 14 menit 37 detik ini mengajak penonton khususnya generasi muda
untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu, meskipun terbatas oleh dana. Film ini bergenre drama keluarga. Film “Selembar Itu
Berarti” yang juga diikutkan di ajang ISFF (Indonesian Short Film Festival)
2015 menggunakan talenta dari Medan dan sekitarnya. Adu akting artis cilik di
film ini bakal memainkan emosi penonton. Film ini diikutkan dalam ajang ISFF
selain untuk mengukur kemampuan bakat anak-anak Medan dan Sumatera Utara
umumnya, juga sebagai cara untuk menebarkan aura optimis yang kian hari kian
terkikis.
Film
bergenre keluarga yang disutradai oleh Dedy Wafer ini sangatlah mengiris hati
setiap penontonnya. Dedy Wafer mengambil latar tempat di Kabupaten Langkat
yaitu Gebang. Berlatar belakangkan dengan sebuah desa yang asri ini sepertinya
tidak mencerminkan kehidupan sosial masyarakat setempat. Secara sosial dapat
dikatakan masyarakat Gebang mempunyai jiwa sosial tinggi, namun dalam film ini tidak
ditunjukkan kepedulian masyarakat Gebang mempuyai jiwa sosial.
Hal
ini dapat dilihat ketika keluarganya Putri dan Dias ditimpah musibah tidak
sedikitpun warga masyarakat yang menolongnya. Ini sangat bertolak belakang
dengan kehidupan di pedesaan yang kental akan jiwa sosialnya. Ketika Ibunya
Putri dan Dias sakit sampai meninggal seakan-akan tidak ada masyarakat yang
peduli.
Buku Mampu Mengubah Dunia
Dalam film
tersebut ada sebuah kisah yang menarik untuk dikupas, yaitu perjuangan anak
bangsa dalam meraih dunia pendidikan. Tidak semua anak-anak Indonesia dapat
menikmati manisnya bangku sekolah. Banyak faktor yang menyebabkan itu semua,
salah satunya adalah faktor ekonomi. Begitu halnya dalam film tersebut, kedua
saudara yang sedang memperjuangkan sekolahnya meskipun harus berjuang tanpa
orang tua.
Mengkais
buku-buku bekas yang masih layak pakai ini merupakaan salah satu potret miris
untuk negara kita. Sebuah buku yang notabene adalah senjata untuk anak bangsa
mampu menebus kebodohan sulit untuk ditemukan.
Buku adalah jendela dunia, maka wajar saja jika buku merupakan kebutuhan primer
dalam dunia sekolah.Betapa pentingnya buku untuk kehidupan, sehingga jika kita
mengabaikan membaca buku berarti kita mengabaikan pengetahuan emas dari buku
dalam menata kehidupan itu sendiri.
Melalui bukulah kita bisa menembus ruang angkasa yang
amat luas. Intinya, bahwa hanya dengan membaca buku, kita akan tahu banyak hal,
kita juga bisa tahu banyak tentang relasi esensi alam ini dengan manusia.
Semakin banyak buku yang kita baca, maka akan semakin mudah bagi kita untuk
“menguasai dunia”.
Tapi sayangnya, membaca buku adalah suatu kebiasaan.
Kebiasaan tersebut diawali oleh seringnya melatih diri menjadikan buku sebagai
kebutuhan pokoknya. Sebagaimana belajar bahasa, seseorang tidak akan menguasai
bahasa kalau tidak dipraktekkan setiap harinya. Rendahnya minat baca generasi
penerus bangsa saat ini membuat mereka terpuruk dan tidak terbiasa untuk
menganalisa berbagai masalah negara yang semakin ruwet.
Terdapat laporan berjudul World’s
Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State
University tahun 2016,
merilis bahwa peringkat literasi Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61
negara yang diteliti. Tidak kalah mencengangkan dengan itu, survei tiga
tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan pada tahun 2012
mengungkapkan bahwa hanya ada 17,66 persen anak-anak Indonesia yang
memiliki minat baca, sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67
persen. Artinya hanya ada 1 dari 10 anak di Indonesia yang memiliki minat baca,
dan 9 dari 10 anak Indonesia lebih menyukai untuk menonton televisi.
Ironisnya,
saat ini membaca buku dianggap kegiatan kuno hal ini tertindas oleh kecanggihan
dunia teknologi dan informasi. Masyarakat atau kalangan mahasiswa/pelajar
secara perlahan sudah menjahui buku. Mahasiswa/pelajar
saat ini sudah tidak tertarik lagi dengan buku-buku bacaan, meskipun berupa
novel maupun cerpen. Mahasiswa/pelajar saat ini lebih memilih shoping,
nongkrong di cafeé, dan jalan-jalan daripada membaca buku. Dan
ini terjadi karena kehidupan santai dan pola mandiri yang tidak tepat sehingga
membuat mahasiswa terlena dengan glamornya kehidupan kampus/sekolah.
Rendahnya minat baca terhadap buku, membuat mahasiswa/pelajar juga tidak
terbiasa membolak-balik media informasi yang lebih penting. Mahasiswa sekarang
lebih memilih aktifitas yang minim manfaatnya (fb-an, download lagu,
film, dan semacamnya) daripada membaca buku. Dominasi teknologi instan saat ini
memang membuat buku semakin dilupakan, akhirnya buku-buku yang ada di
perpustakaan pun hanya sekedar menjadi pajangan belaka.
Buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk merubah dunia. Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa
depan manusia. Banyak manusia-manusia hebat karena mereka adalah
orang-orang kutu buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung
Karno adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengilhaminya
untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini
adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Karno karena
wawasan yang luas dari hasil bacaannya.
Indonesia dapat melihat Jepang sebagai acuan dari negara maju yang gemar
akan membaca. Rakyat Jepang adalah orang-orang yang gila ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan
hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang
menjadi negara maju. Yang menarik untuk dicermati dalam hal ini adalah Jepang
yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu
tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang.
Melihat
dari fakta yang telah terpapar di atas Indonesia harus menggalakkan untuk
rakyat gemar membac buku. Meskipun di era digital sekarang ini, semua orang
bisa mengkases informasi melalui digital namun buku cetak tidak bisa
ditinggalkan begitu saja. Berbagai upaya pemerintah dalam menggalakkan gemar
membaca buku, salah satunya dengan menerapkan kegiatan literasi di
sekolah-sekolah. Dengan demikian, penyediaan buku-buku haruslah banyak untuk
mendukung kegiatan tersebut.
Merasakan kehadiran buku sebagai jendela untuk kita untuk melihat masa
depan, serta jadikanlah keberadaan buku sebagai jembatan untuk kita untuk
berusaha menjadi makhluk Tuhan yang mencintai ilmu. Sebab untuk banyak
menguasai ilmu, kita harus banyak membaca buku. Dengan sering membaca buku,
kita akan menguasai dunia. Seperti seorang bijak bestari menyatakan “ membaca
adalah jendela dunia”.
Suatu kebohongan belaka jika seseorang ingin mendapatkan ilmu namun ia
tidak ingin membaca, karena sangat jelas bahwa ilmu akan didapat setelah kita
membaca. Dalam Islam sendiri perintah membaca terdapat dalam qur’an surah
Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi Iqro’
artinya bacalah. Ayat tersebut
memerintahkan ummat Islam untuk membaca, segala sesuatu yang diperintahkan
Allah pasti akan membawa manfaat bagi ummatnya.
Penulis
adalah alumni UMSU dan Guru SIT Iqro’ Stabat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar