Kamis, 25 April 2019


Ketika Selembar “Buku” itu Berarti
Oleh: Eva Juliyanti
Bercerita tentang dua orang kakak beradik yang masih duduk di sekolah dasar (SD), mereka hidup di sebuah rumah yang terletak pinggiran kota. Pada awalnya hidup mereka sangat berkecukupan, namun setelah sang ayah mereka meninggal, hidup mereka berubah drastis. Hidup mereka tidak mencukupi, selain ibu yang hanya seorang buruh cuci pakaian, mereka juga terancam putus sekolah. Namun Putri kakak Dias tidak mau menyerah pada keadaan ini.
Langkah kecil dua orang bocah, Putri dan Dias setia menyusuri pinggiran sungai. Kehilangan sosok seorang ayah membuat keluarga mereka harus hidup di bawah garis kemiskinan. Meski begitu, Putri dan Dias tidak pernah menyerah untuk selalu tetap sekolah. Keterbatasan dana selalu disikapi mereka dengan optimis.
Walaupun baru berusia 10 tahun dia selalu memberi semangat kepada Ibu dan adiknya Dias. Setiap sepulang sekolah, Putri dan Dias selalu pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari buku-buku bekas untuk mereka belajar. Dan setiap malam setelah belajar, mereka memisah – misahkan buku tulis yang masih kosong lalu di lem kembali untuk mereka menulis catatan yang diberikan guru. Mengikat sepatu yang hampir kehilangan tapaknya, hingga menjaga ibu yang selalu sakit-sakitan. Itulah sepenggal cerita dari Film karya Dedy Wafer yang berjudul “Selembar Itu Berarti”.
Film yang berdurasi 14 menit 37 detik ini mengajak penonton khususnya generasi muda untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu, meskipun terbatas oleh dana. Film ini bergenre drama keluarga. Film “Selembar Itu Berarti” yang juga diikutkan di ajang ISFF (Indonesian Short Film Festival) 2015 menggunakan talenta dari Medan dan sekitarnya. Adu akting artis cilik di film ini bakal memainkan emosi penonton. Film ini diikutkan dalam ajang ISFF selain untuk mengukur kemampuan bakat anak-anak Medan dan Sumatera Utara umumnya, juga sebagai cara untuk menebarkan aura optimis yang kian hari kian terkikis.
            Film bergenre keluarga yang disutradai oleh Dedy Wafer ini sangatlah mengiris hati setiap penontonnya. Dedy Wafer mengambil latar tempat di Kabupaten Langkat yaitu Gebang. Berlatar belakangkan dengan sebuah desa yang asri ini sepertinya tidak mencerminkan kehidupan sosial masyarakat setempat. Secara sosial dapat dikatakan masyarakat Gebang mempunyai jiwa sosial tinggi, namun dalam film ini tidak ditunjukkan kepedulian masyarakat Gebang mempuyai jiwa sosial.
            Hal ini dapat dilihat ketika keluarganya Putri dan Dias ditimpah musibah tidak sedikitpun warga masyarakat yang menolongnya. Ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan di pedesaan yang kental akan jiwa sosialnya. Ketika Ibunya Putri dan Dias sakit sampai meninggal seakan-akan tidak ada masyarakat yang peduli.
Buku Mampu Mengubah Dunia
            Dalam film tersebut ada sebuah kisah yang menarik untuk dikupas, yaitu perjuangan anak bangsa dalam meraih dunia pendidikan. Tidak semua anak-anak Indonesia dapat menikmati manisnya bangku sekolah. Banyak faktor yang menyebabkan itu semua, salah satunya adalah faktor ekonomi. Begitu halnya dalam film tersebut, kedua saudara yang sedang memperjuangkan sekolahnya meskipun harus berjuang tanpa orang tua.
            Mengkais buku-buku bekas yang masih layak pakai ini merupakaan salah satu potret miris untuk negara kita. Sebuah buku yang notabene adalah senjata untuk anak bangsa mampu menebus kebodohan  sulit untuk ditemukan. Buku adalah jendela dunia, maka wajar saja jika buku merupakan kebutuhan primer dalam dunia sekolah.Betapa pentingnya buku untuk kehidupan, sehingga jika kita mengabaikan membaca buku berarti kita mengabaikan pengetahuan emas dari buku dalam menata kehidupan itu sendiri.
Melalui bukulah kita bisa menembus ruang angkasa yang amat luas. Intinya, bahwa hanya dengan membaca buku, kita akan tahu banyak hal, kita juga bisa tahu banyak tentang relasi esensi alam ini dengan manusia. Semakin banyak buku yang kita baca, maka akan semakin mudah bagi kita untuk “menguasai dunia”.
Tapi sayangnya, membaca buku adalah suatu kebiasaan. Kebiasaan tersebut diawali oleh seringnya melatih diri menjadikan buku sebagai kebutuhan pokoknya. Sebagaimana belajar bahasa, seseorang tidak akan menguasai bahasa kalau tidak dipraktekkan setiap harinya. Rendahnya minat baca generasi penerus bangsa saat ini membuat mereka terpuruk dan tidak terbiasa untuk menganalisa berbagai masalah negara yang semakin ruwet.
            Terdapat laporan berjudul World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, merilis bahwa peringkat literasi Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. Tidak kalah mencengangkan dengan itu, survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa hanya ada 17,66 persen anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca, sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67 persen. Artinya hanya ada 1 dari 10 anak di Indonesia yang memiliki minat baca, dan 9 dari 10 anak Indonesia lebih menyukai untuk menonton televisi.
Ironisnya, saat ini membaca buku dianggap kegiatan kuno hal ini tertindas oleh kecanggihan dunia teknologi dan informasi. Masyarakat atau kalangan mahasiswa/pelajar secara perlahan sudah menjahui buku. Mahasiswa/pelajar saat ini sudah tidak tertarik lagi dengan buku-buku bacaan, meskipun berupa novel maupun cerpen. Mahasiswa/pelajar saat ini lebih memilih shoping, nongkrong di cafeé, dan jalan-jalan daripada membaca bukuDan ini terjadi karena kehidupan santai dan pola mandiri yang tidak tepat sehingga membuat mahasiswa terlena dengan glamornya kehidupan kampus/sekolah.
Rendahnya minat baca terhadap buku, membuat mahasiswa/pelajar juga tidak terbiasa membolak-balik media informasi yang lebih penting. Mahasiswa sekarang lebih memilih aktifitas yang minim manfaatnya (fb-an, download lagu, film, dan semacamnya) daripada membaca buku. Dominasi teknologi instan saat ini memang membuat buku semakin dilupakan, akhirnya buku-buku yang ada di perpustakaan pun hanya sekedar menjadi pajangan belaka.
Buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk merubah dunia.  Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan manusia. Banyak  manusia-manusia hebat karena mereka adalah orang-orang kutu buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengilhaminya untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Karno karena wawasan yang luas dari hasil bacaannya.
Indonesia dapat melihat Jepang sebagai acuan dari negara maju yang gemar akan membaca. Rakyat Jepang adalah orang-orang yang gila ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang menjadi negara maju. Yang menarik untuk dicermati dalam hal ini adalah Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang.
Melihat dari fakta yang telah terpapar di atas Indonesia harus menggalakkan untuk rakyat gemar membac buku. Meskipun di era digital sekarang ini, semua orang bisa mengkases informasi melalui digital namun buku cetak tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Berbagai upaya pemerintah dalam menggalakkan gemar membaca buku, salah satunya dengan menerapkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Dengan demikian, penyediaan buku-buku haruslah banyak untuk mendukung kegiatan tersebut.
Merasakan kehadiran buku sebagai jendela untuk kita untuk melihat masa depan, serta jadikanlah keberadaan buku sebagai jembatan untuk kita untuk berusaha menjadi makhluk Tuhan yang mencintai ilmu. Sebab untuk banyak menguasai ilmu, kita harus banyak membaca buku. Dengan sering membaca buku, kita akan menguasai dunia. Seperti seorang bijak bestari menyatakan “ membaca adalah jendela dunia”.
Suatu kebohongan belaka jika seseorang ingin mendapatkan ilmu namun ia tidak ingin membaca, karena sangat jelas bahwa ilmu akan didapat setelah kita membaca. Dalam Islam sendiri perintah membaca terdapat dalam qur’an surah Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi Iqro’ artinya bacalah. Ayat tersebut memerintahkan ummat Islam untuk membaca, segala sesuatu yang diperintahkan Allah pasti akan membawa manfaat bagi ummatnya.

Penulis adalah alumni UMSU dan Guru SIT Iqro’  Stabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar