Meningkatkan Gelora Pariwisata di
Bumi Langkat
Oleh
: Eva Juliyanti, S. Pd
Kabupaten Langkat adalah sebuah
kabupaten yang terletak di Sumatra Utara, Indonesia. Ibu kotanya berada di
Stabat. .Kabupaten
Langkat terdiri dari 23 kecamatan 37 kelurahan dan
240 desa dengan luas wilayah mencapai
6.262,00 km² dan jumlah penduduk sekitar 1.032.330 jiwa (2017) dengan kepadatan
penduduk 165 jiwa/km². Nama Langkat diambil dari
nama Kesultanan Langkat yang dulu pernah ada di tempat yang kini merupakan kota
kecil bernama Tanjung Pura, sekitar 20 km dari Stabat. Mantan wakil presiden
Adam Malik pernah menuntut ilmu di sini.
Kabupaten Langkat Memiliki
Batas Wilayah Sebagai Berikut : Utara Selat Malaka, Selata Kabupaten Karo dan
Kabupaten Deli Serdang, Barat Kabupaten Aceh Tamiang (Provinsi Aceh), Timur
Kabupaten Deli Serdang. Dengan luas wilayah yang dikelingi bukit tentu saja wilayah Kabupaten
Langkat ini menyimpan sejuta pesona keindahan tempat wisatanya.
Kabupaten yang dipimpin oleh T.
Ismail Ashwin sebagai bupati pertama ini menyimpang segudang objek wisata yang
memukau. Ada Air Terjun Tongkat, Air Terjun Siluman, Kolam Abadi, Pangkal Namo
Sira-Sira, Pemandian Kampung Qur’an, Pemandian Alam Pantai Florida, Arum Jeram
Sei Binagai, Air Panas Simolap, Rumah Habitat, Akui Puncak, Air Terjun Tero
Tero, Air Terun Saringgana, Tangkahan, Bukit Lawan, Sungai Landak, Hutan
Mangrove Lubuk Kertang dan masih banyak lagi wisata alam yang ada di bumi
Langkat.
Selain wisata alam di Langkat juga
memiliki tempat-tempat bersejarah. Yaitu Masjid Azizi, Tugu Tengku Amir Hamzah,
Gedung MABMI, Gedung PTPN II Milik Belanda, Kampung Bali, Museum di Tanjung
Pura, Gedung Kerapatan, Kolam Raja, Lapangan Arkeologi, Penyulingan Minyak
Besitang, Rumah Datuk Setia Bakti dan masih banyak lagi tempat-tempat
bersejarah lainnya.
Berdasarkan pemaparan di atas
terlihat jelas bahwa Langkat adalah sebuah daerah yang kaya akan objek wisata
dan tempat bersejarah yang harus dilestarikan. Kekayaan alam atau tempat-tempat
bersejarah jika tidak dirawat maka akan punah seiring berjalannya waktu. Banyak
sudah beberapa tempat yang tidak lagi tereksplor oleh mata karena kurang
terawat dan kurangnya perhatian pemerintah.
Kehebatan Borobudur yang telah diakui
UNESCO sebagai warisan budaya dunia, bukan saja karena merupakan candi Buddha
terbesar di dunia yang dibangun pada abad-9. Tetapi karena peradaban dan
kreatifitas orang Indonesia sejak abad 9 masih berlanjut sampai dengan sekarang
seperti dapat dilihat dari orang-orang kreatif pemahat batu dan pengukir yang
masih berada di sekitar Candi Borobudur.
Beberapa contoh warisan budaya Indonesia
seperti batik dan wayang tetap bertahan dalam bentuk asli dan tradisionalnya,
namun dengan pemanfaatan yang lebih kontemporer dan berkembang terus karena
kreatifitas, dapat menciptakan nilai tambah dan menghidupkan kembali
ketrampilan yang hampir punah. Batik tidak lagi digunakan dalam acara resmi dan
formal, tetapi telah berkembang untuk berbagai kegunaan karena
sentuhan-sentuhan dari desainer maupun percontohan penggunaan batik oleh semua
kalangan. Misalnya pengunaan batik satu sampai dua kali seminggu di kalangan
pemerintahan. Perkembangan tidak terbatas kain dan fahion, tetapi juga untuk
interior, keramik, dan seterusnya.
Langkat dengan segala budaya dan kekayaan alamnya
dapat menjadi daerah yang maju dan berkembang. Langkat memiliki Tanjung Pura
sebagai kota bersejarah dan kota pendidikan pada zamannya. Banyak situs-situs
sejarah kesultanan berasal dari Tanjung Pura. Selain itu, masih banyak lagi
tempat di Langkat yang dapat menjadi nilai jual para wisatawan untuk ke
Langkat.
Selain objek wisata dan tempat bersejarah,
Langkat juga memiliki kuliner serta kerajinan dan panganan local. Langkat
merupakan daerah dengan mayoritas bersuku melayu. Kuliner seperti Haluwa atau
manisan, bubur pedas, roti jala, dodol Tanjung Pura, terasi Pulau Kampai,
Kolang Kaling Selesai dan masih banyak lagi. Keripik Cinta saat ini menjadi
oleh-oleh ketika pergi ke Langkat. Kekayaan
laut yang dimiliki Langkat juga menjadi omset besar. Dengan membudidayakan
nelayan dan hasil laut itu sendiri akan menjadi nilai untuk menaikkan
pendapatan daerah.
Mengingat saat ini tempat wisata merupakan penyokong dana yang
cukup besar terhadap penerimaan asli daerah. Sebab di dalam tempat wisata
tersebut tentunya para wisatawan bukan hanya membayar tiket masuk yang menjadi
pajak dari pajak tempat wisata, tetapi wisatwan juga membayar parkir yang
merupakan bagian dari retribusi daerah.
Dengan adanya berbagai macam jenis sumber anggaran pembiayaan
pembangunan konvensional diharapkan bisa memberikan peningkatan terhadap
Pendapatan Asli Daerah ( PAD ).Pendapatan asli daerah adalah pendapatan daerah
yang bersumber dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolalaan
kekayaan yang dipisahkan, dan lain lain pendapatan asli daerah yang sah, yang
bertujuan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai
pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan
desentralisasi ( UU No.33 Tahun 2004 ).
Salah satu contoh untuk meningkatkan pendapatan asli daerah
yaitu dengan pemungutan retribusi daerah, karena retribusi daerah sendiri
memiliki kelebihan, di mana pemerintah
daerah bisa memungut retribusi lebih dari satu kali terhadap siapa saja yang telah
menggunakan jasa yang sudah disediakan oleh pemerintah daerah.
Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran
atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberiy
oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan ( UUD no.34
tahun 2000 ). Pemungutan retribusi daerah sendiri dilakukan dengan menggunakan
peraturan daerah sebagy produk hukum. Tujuan dari adanya pemungutan retribusi
daerah sendiri adalah untuk memenuhi kebutuhan daerah serta menciptakan
kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Selain memiliki tujuan, retribusi
memiliki suatu fungsi yang peranannya sangat penting bagi suatu daerah. Kaitannya dengan pendapatan asli daerah dan
pemungutan retribusi daerah, sektor pariwisata merupakan sektor yang memiliki
potensi yang perlu dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan
daerah.
Dengan
demikian sangat jelas bahwa dengan meningkatkan potensi alam dan menggaungkan
objek wisata di Langkat secara otomatis akan meningkatkan PAD Langkat. Namun
ada beberapa catatan untuk pemerintah dalam meningkatkan pariwisata yang ada di
Langkat.
Mengenali
Potensi Tempat
Setiap
tempat memiliki potensi atau keunikan untuk menjadi daya tarik wisatawan.
Ketika sudah mengenali tempat seperti kondisi tanah, jarak tempuh dan lain
sebagainya akan mempermudah mengembangkan fasilitas yang ada.
Memperbaiki Sarana dan Prasarana
Wisatawan
akan merasa terkesan mengunjungi suatu tempat jika merasakan kenyaman ketika
berada di tempat tersebut. Di Langkat masih banyak jalan menuju lokasi wisata
yang masih jauh dari kata layak. Akses jalan menuju lokasi wisata merupakan
factor penunjang untu menarik wisatawan. Pemerintah seharusnya lebih
memperhatikan jalan-jalan menuju tempat wisata dan dapat belajar dari
pemerintah Aceh di mana jalan menuju lokasi wisata semuanya bagus dan terawat.
Selain masalah jalan, sarana di
lokasi wisata seperti toilet, tempat ibadah, tempat makan juga harus
diperhatikan. Pengelolahan lingkungan agar bersih/ bebas sampah akan menjadi
nilai plus.
Mengajak Masyarakat Sebagai
Promotion
Sebuah
tempat akan viral jika banyak masyarkat secara berbondong-bondong menjadikan
tempat tersebut tranding topic. Saat
ini kita bisa menjadikan media social sebagai alat promosi kita. Tidak lupa
juga kita mengajak masyarakat untuk ikut andil dalam promosi ini. Mengajak dan
menyadarkan masyarakat akan pentingnya melestarikan dan membudayakan kekayaan
dan budaya yang kita miliki.
Dengan memiliki kesadaran tinggi
bahwa apa yang dimiliki di Langkat ini adalah titipan Allah Swt yang harus
dijaga dan dilestarikan akan menjadi pondasi kuat untuk menjadikan Langkat
sebagai Daerah Wisata Kanca Dunia. Masyarkat akan dengan sendirinya memikirkan
bagaimana agar potensi yang telah ada terus terjaga dan terwat.
Meningkatkan semangat dalam
mengelola tempat wisata di Langkat agar menjadi cagar budaya dan cagar alam
dunia akan secara otomatis membantu perekoniman masyarkat. Masyarakat yang
berada di lokasi wisata akan bertambah mata pencaharian dan akan mengurangi
pengangguran.
Pemerintah bersama masyrakat terus
bergandeng tangan dan bekerja sama dalam melestarikannya, mejaganya dan
merawatnya. Pemerintah harus tegas dalam menangani segolongan orang atau
kelompok yang berupaya merusak alam secara membabi buta. Sebab orang-orang
seperti ini pasti ada dan nyata. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam Al Qur’an
Surah Ar Rum: 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar