Jumat, 07 April 2017

Assalamu’alaikum Beijing: Islam, Indonesia dan  China
Oleh : Eva Juliyanti
            Asma Nadia selalu menelurkan karya-karya yang menggugah hati para pembacanya. Setelah novel berjudul Catatan Hati Seorang Istri yang diadopsi ke dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia, kini Asma Nadia menelurkan sebuah novel berjudul Assalamualaikum Beijing. Novel tersebut telah diangkat ke layar lebar dan sekali lagi mendapatkan apresiasi yang tinggi dari penggemar dan penonton.
            Film Assalamua’alikum Beijing mendapatkan apresiasi dari para penontonnya. Kesuksessan film ini direbus dengan apik oleh penulis skenario Alim Sudio dan sutradara Guntur Soeharjanto yang sebelumnya menyutradarai film “99 Cahaya di Langit Eropa” dari novel Hanum Rais. Film ini mengadopsi novel karya Asma Nadia dengan judul yang sama Assalamuaalikum Beijing atau disebut AB. Dalam film tersebut merupakan kombinasi perjalanan Asma Nadia ke Beijing dan konflik cerita yang benar-benar terjadi.
Film Assalamualaikum Beijing merupakan adopsi dari novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia yang ditulisnya tahun 2012. Novel ini mengisahkan tokoh Asma yang terpaksa membatalkan pernikahannya sehari menjelang hari pernikahannya karena calon suaminya Dewa mengkhianatinya. Asma lalu menerima tugas sebagai penulis kolom di Beijing. Bersama sahabat setianya Sekar dan suami Sekar (Ridwan), Asma menikmati tugas barunya di Beijing dan berusaha melupakan Dewa. Hingga pada suatu hari muncul Zhong Wen, lelaki sederhana dan tulus yang menceritakan padanya tentang Ashima, sebuah legenda Yunan, Cina. Namun sayang, Asma kemudian mengalami sakit APS (Anti Phospolipid Syndrome) yang cukup parah, yang bisa mengakibatkannya stroke, lumpuh hingga kehilangan penglihatan. Asma lalu pulang ke Indonesia tanpa memberitahu Zhong Wen apa yang terjadi dan berusaha melupakan Zhong Wen. Zhong Wen yang ingin menjadikan Asma sebagai istrinya kemudian menyusulnya ke Indonesia.
            Cerita dari novel tersebut begitu ditampilkan dalam bentuk film layar lebar sangat bagus. Ceritanya menginspirasi banyak orang. Film tersebut dapat dinikmati dari berbagai kalangan. Film Assalamualaikum Beijing diperankan oleh artis-artis Indonesia, seperti Morgan Oey sebagai Zhong Wen,  Revalina S. Temat sungguh tepat memerankan sosok Asma. Ibnu Jamil berperan sangat baik sebagai Dewa. Laudya Chintya Bella serta Desta memiliki chemistry luar biasa sebagai pasangan suami istri kocak sahabat sejati Asma.
            Film Assalamualaikum Beijing mengajak penonton untuk mengelilingi tempat-tempat indah dan penuh sejarah di Beijing. Perjalanan tersebut bukan sekedar melihat, melainkan penoton diajak untuk mengenlnya karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang punya cerita. Tempat-tampat yang ditunjukkan dalam film tersebut banyak khususnya yang berbau Islam.
            China terkenal dengan tembok raksasa, orang China berkeyakinan bahwa jika seseorang berhasil melewati tembok tersebut maka dia akan  bahagia. Selain tembok raksasa dan film tersebut juga dikisahkan legenda Ashima. Kekuatan cinta Ashima menjadi tonggak tokoh Zhong Wen meraih cinta sejatinya, yaitu Asma.
                Salah satu tempat yang ditunjukkan yaitu sebuah masjid di Beijing yang umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Masjid tersebut memiliki bangunan yang megah dan apik serta fasilitas yang memadai. Dalam film Assalamu’alaikum Beijing diperlihtkan salah satu fasilitasnya yaitu sebuah kursi dan meja yang di designe khusus untuk para jama’ah yang mempunyai kebutuhan khusus atau para jama’ah yang tidak bisa secara normal melakukan shalat. Kursi dan meja tersebut dapat membantu para jama’ah untuk shalat tanpa merasakan kesulitan karena tidak bisa berdiri.
Fasilitas masjid dari masjid yang ditunjukkan dalam film tersebut menunjukkan betapa pedulinya masyarakat Islam di China. Islam begitu dihargai dan dihormati di China. Mereka mendesign fasilitas senyaman mungkin untuk para jama’ahnya. Kenyamanan para jama’ah saat berada di sebuah masjd akan menimbulkan rasa nyaman dan ingin selalu ke masjid. Secara otomatis rasa tersebut akan memakmurkan masjid.
            Selain masjid banyak lagi tempat-tempat bernuansa Islam ditunjukkan dalam film tersebut, seperti restaurant dan lain sebagainya. Film tersebut menunujukkan bahwa Islam memiliki tempat yang terhormat di Beijing karena Islam dianggap sebagai agama yang suci dan itu memang benar. Kehormatan agama Islam di Beijing menempatkan agama Islam termasuk salah satu agama yang di akui di China. Penganut agama Islam di China tergolong sedikit hanya sekitar lebih kurang dua puluh juta jiwa orang.
            Selain tempat-tempat bernuansa Islam ditujukkan dalam film tersebut, penonton juga disuguhkan adab-adab bertemu sapa wanita muslima kepada orang lain yang bukan mahramnya atau muhrimnya. Asma memperlihatkan bahwa wanita muslima jika bertemu dengan lelaki yang bukan muhrimnya tidak diperbolehkan bersentuhan tangan atau menjabat tangan. Kebiasaan berkenalan dengan menjabat tangan antara laki-laki dan wanita yang belum halal ini sudah menjari budaya di Indonesia khusunya yang beraga Islam. Islam sendiri melarang bagi kaum laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya untuk berjabatan tangan karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
            Bukan saja mengangkat cerita-cerita bernuansa Islam, film Assalamualaikum Beijing juga memberikan kisah cinta sejati. Kutipan kata-kata indah dalam novel dimunculkan sutradara melalui perkataan para tokoh, serasa menancap di benak penonton, misalnya: “Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka.” Atau perkataan Asma pada Dewa: “Jangan kau sandingkan nama Tuhan dengan kebohongan!” Atau kutipan: “Bila tak kau temukan cinta, biar cinta menemukanmu.” Dan yang akan paling diingat penonton: “Cinta sempurna itu ada, dan tak perlu fisik sempurna untuk bisa memiliki kisah cinta yang sempurna.”
            Cinta sejati itu ada, hal ini ditunjukkan dari tokoh Asma yang menderita penyakit. Ketidaksempurnaan fisiknya tidak melunturkan cinta Zhong Wen kepada Asma. Zhong Wen yang awalnya beragam non Islam dan masih bingung dengan sebuah keyakinan akhirnya hidaya Allah melalui sosok Asma datang dan menuntunnya masuk Islam. Kesetiaan Zhong Wen terhadap Asma dibuktikan saat Asma menghadapi masa-masa sulit melawan penyakitnya. Zhong Wen menikahi Asma meskipun Asma dalam ketidaksempurnaan, namun cinta mengalahkan ketidaksempurnaan itu semua.
            Cinta tidak memandang siapa yang akan dicintai, bagaimana keadaan yang akan dicintai dan apa status yang akan dicintai tersebut. Cinta bukanlah sebuah kejahatan yang harus memberikan hukuman bagi para pengemban cinta sejati. Kalaulah cinta sebuah kejahat sudah jelas orang yang mencintai itu adalah penjahat. Begitulah cinta Zhong Wen terhadap Asma, Zhong Wen mencintai Asma meskipun awalnya ditolak karena Asma merasa tidak akan berbuat adil kepada Zhong Wen nantinya.
Penonton dapat menyaksikan bagaimana perjuangan seseorang yang benar-benar mencintai dengan tulus, seseorang yang mendapatkan hidayah melalui perantara hamba-Nya, seseorang yang dengan tegar menghadapi ujian yang diberikan oleh-Nya, dan sosok luar biasa yang menginspirasi banyak orang dengan tulisannya. Beliau berda’wah melalui tulisannya, mensyiarkan agama melalui karyanya, serta kembali meruntuhkan dinding kokoh yang tercipta antara umat dan Rasul melalui kisah sahabat yang disisipkan melalui novel dan film Assalamualaikum Beijing.
Penonton dapat mengambil hikmah bahwa cinta itu tidak perlu fisik. Cinta adalah sebuah fitrah dari Tuhan kepada setiap ummatnya. Kemurnian cinta seringkali dikotori oleh ulah ummatnya sendiri. Menunjukkan rasa cinta bukan berarti dengan mengekspresikannya secara agresif. Pacaran yang sudah menjadi tradisi saat ini sangat tidak benar untuk mengungkapkan rasa cinta itu. Pacaran bukanlah akhir pelabuhan dari perjalan cinta tersebut, kekuatan cinta saat pacaran tidaklah kuat. Menunjukkan cinta bukan dengan pacaran melainkan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menjemput cinta sejati.
 (Terbit di Analisa)

                                                            Penulis adalah Alumni UMSU dan Guru SIT IQRA’

1 komentar: