Senin, 09 Desember 2019

Aku Ingin Menjadi Istri Soleha


Aku Ingin Menjadi Istri Soleha
Oleh : Eva Juliyanti
            Setiap wanita muslimah  pasti memiliki cita-cita menjadi istri soleha bagi suaminya. Sebaliknya suamipun menginginkan istri yang soleha untuk mendampinginya dalam membangun rumah tangga. Memiliki isitri soleha bagi suami bagaikan memperoleh kenikmatan di dunia, sebagaimana dengan hadist Rasulullah yang diriwiyatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah SAW bersabda,” Dunia ini adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri) soleha.”(HR. Muslim dan Ahmad).  Untuk menjadi istri yang soleh tidaklah sulit, namun butuh keistiqomahan dan komitmen dalam diri.
            Menjadi istri soleha memiliki banyak keutaman. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menyebutkan dalam sebuah hadist shahih Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan Hur’ain (bidadari) di surga kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yang kecantikannya dan keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan wanita lainnya. Siapa wanita itu? Ternyata wanita itu adalah istrinya selama di dunia. Itulah keistimewaan para istri dunia di surge kelak. Dia akan menjadi ratu para Hur’ain (bidadari). Lalu Ibnu Qayyim mengatakan “ Apakah seorang raja pernah memikirkan pelayannya di hadapan ratunya? Tentu tidak.  Jadi Allah akan memberikan pada istri di dunia kecantikan yang luar biasa jauh melebihi para bidadari di surge kelak. Kenapa begitu? Ibnu Qayiim menjelaskan,” Karena Hur’ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan seperti wanita di dunia. Mereka tidak pernah berjuang di jalan Allah, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami dan sebagainya.”
            Dalam hadist lain menyebutkan bahwa wanita (istri) dunia yang shaliha lebih utama dari pada  bidadari surga. Ummu Salamah Radhiyallahu’anha  bertanya kepada Rasulullah SAW “ Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita di dunia atau bidadari yang bermata jeli? Rasulullah SAW menjawab, “ Wanita-wanita dunia lebih utama dari pada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dari pada apa yang tidak tampak.” Kemudian bertanya lagi, “ karena apa wanita dunia lebih utama dari bidadari?” Rasulullah SAW menjawab, “ Karena shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, kami hidup abada dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut, berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya. ( HR. AT Thabrani)
Sungguh mulia kedudukan wanita (istri) soleha, bahkan lebih baik dari pada bidadari surga. Sudah sepantasnya kita menjadikan istri soleha sebagai cita-cita tertingi kita. Ketika kita menjadi istri yang soleha maka kita akan bebas masuk ke surga lewat pintu mana saja. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah  Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)
            Untuk menjadi istri soleha, ada beberapa perkara yang harus istri lakukan, di antaranya; Pertama, Mendahulukan hak suaminya dari pada hak orang lain termasuk hak atas dirinya.
Kedua, Senantiasa bersedia memberikan kenikmatan (termasuk kenikmatan batin) kepada suami., terutama jika suami yang menginginkannya terkecuali dalam keadaan haid atau nifas. Apabila istri menolak keinginan suami tanpa sebab dan alasan yang diperbolehkan dalam ajaran Islam, maka saat itu juga istri berdosa, bahkan dilkanat oleh malaikat. Sabda Rasulullah SAW mengatakan, “Apabila suami mengajak istrinya berhubungan, lalu istrinya menolak tanpa alasan yang diperbolehkan  lalu suaminya marah maka istri itu dilaknat malaikat.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ketiga, Tidak menjalankan puasa sunnah tanpa seizin suaminya. Ketika istri sedang berpuasa, sudah tentu suami dilarang menggaulinya, padahal hak bergaul adalah hak suami kepada istrinya, hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda,” Tidak halal(tidak boleh) seorang istri berpuasa padahal suaminya ada di rumah, kecuali atas izinya. “ (HR. Bukhori dan Muslim)
Keempat,tidak diperkenankan bagi istri memberikan sesuatu dari dalam rumahnya atau mengeluarkan sesuatu dari dalam rumahnya tanpa izin dan sepengetahuan suaminya. Tentunya hal-hal yang bernilai dan harus sepengetahuan suami.
Kelima, tidak bepergian meninggalkan rumah dan mencari nafkah atau kerja tanpa seizin suami sebab mencari nafkah adalah tugas suami dan istri tugasnya di rumh.
Keenam, memiliki sifat qana’ah yaitu menerima apa adanya segala kemampuan suami dalam mencari nafkah.  Istri tidak boleh menuntut suaminya di luar batas kemampuan suami. Menajdi istri kita harus bersyukur atas pemerolehan suami dan seharusnya memberikan semangat untuk bersabar dan giat dalam mencari nafkah.
Ketujuh, wajib menutup aurat dan tidak memperlihatkan kecantikannya kepada orang lain yang tidak berhak melihatnya.
Kedelapan, menjaga jarak dengan lawan jenis terutama teman suami. Hal ini harus dihindari untuk menghindari fitnah. Terlebih saat ini banyak sekali rumah tangga hancur karena adanya orang ketiga. Maka dari itu segala hal yang dapat memicu hadirnya orang ketika agar dihindari.
Kesembilan, rendah hati dan tidak menyombongkan atas kecantikan atau kelebihan (fisik dan materi) yang dimiliki.  Bahkan sampai menghina kekurangan suami, misalnya dari segi fisik dan kemampuan lainnya. Suami adalah orang yang harus dijaga kehormatannya, dilayani sepenuh hati, dijaga kewibawaan dan kehormatannya, serta dihargai.
Kesepuluh, memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Mendidik dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang bukan dengan kekerasan. Mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam yang baik, akhlak yang baik dan selalu menjadi  anak  yang ingat dengan Allah. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Anak hebat, terlahir dari ibu yang hebat.
Ketaatan istri kepada suami akan mengantarkan istri  masuk surge. Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan istri yang taat suami itulah yang dianggap wanita terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai dan Ahmad )
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar