Sabtu, 27 April 2019


Hari Puisi Nasional
 Meningkatkan Eksistensi  Puisi di Zaman Milenial
Eva Juliyanti

            Hari Puisi Nasional masih menjadi kontroversi antara tanggal 28 April dan 26 Juli, kedua tanggal tersebut memiliki sejarah tersendiri. Pada tanggal 26 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia. Hari tersebut sudah dideklarasikan 7 tahun lalu, tepatnya tanggal 22 November 2012. Peringatan Hari Puisi Indonesia juga bukan pada tanggal wafatnya Chairil Anwar, tapi pada hari lahirnya, yaitu 26 Juli.
Deklarasi dan penetapan Hari Puisi Indonesia itu dilakukan oleh puluhan penyair Indonesia di Pekanbaru, Riau, 22 November 2012 silam. Setelah ditandatangani para penyair, teks deklarasi dibacakan oleh presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sejumlah penyair yang ikut mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Panda MT Siallagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Kepulauan Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau).
Setelah dideklarasikan, peringatan Hari Puisi Indonesia telah berlangsung rutin mulai tahun 2013, 2014 dan 2015. Bahkan, untuk menyokong konsistensi perayaan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Hari Puisi telah didirikan atas inisiatif penyair Rida K Liamsi. Yayasan ini telah menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia setiap tahun dengan berbagai acara, termasuk menyelenggarakan Anugerah Hari Puisi, yaitu penghargaan atas buku puisi terbaik.
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.
Pekanbaru, 22 November 2012
Selain itu,pada tanggal 28 April muncul sebagai Hari Puisi Nasional.Hal ini masih berkaitan dengan penyair Chairil Anwar, Ia wafat tanggal 28 April. Chairil lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta tangal 28 April 1949 pada usia 26 tahun. Penyair ‘Si Binatang Jalang’ ini hijrah ke Jakarta (Batavia) mengikut ibunya yang bercerai dengan sang suami. Hingga kini, pengagum Chairil Anwar terus bertambah. Puisi-puisi Anwar yang hanya berjumlah 70-an judul itu, juga sangat dikagumi oleh generasi lintas zaman, bahkan hingga era digital ini. Wafatnya Chairil Anwar inilah diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.
***
            Terlepas dari polemik di atas, hari ini telah ditetapkan bahwa Hari Puisi Nasional kita peringati setiap tangga 28 April. Kita tidak perlu lagi mempermasalhkn hal tersebut, yang menjadi masalah hari ini adalah kurangnya minat anak zaman sekarang (milenial) terhadap sastra salah satunya adalah puisi telah menurun bahkan perlahan menghilang.
Pandangan Sastra “Rendah”
Masyarakat hari ini berpandangan tentang sastra atau kesusastraan kerap berada pada tataran bahwa sastra adalah sesuatu yang berat, luhung, dan memiliki nilai-nilai filosofis. Sehingga, sastra yang ditulis oleh manusia sangat berjarak dengan manusia itu sendiri sebagai pembaca. Bahkan sastra itu dianggap kuno,tidak level untuk digeluti.
Pola pikir masyarakat demikian akan menjadi penghambat pergerakkan sastra. Sastra yang seharusnya dilestarikan karena masyarakat yang sudah termomok dengan nilai sastra tersebut.Padahal sastra itu memiliki nilai estetika tersendiri,khusunya puisi ini merupakan sastra yang memiliki nilai tinggi. Dalam puisi ini kita bebas menuangkan perasaan kita dengan permainan kata yang apik.
Rendahnya Minat Membaca
Selain karena pemahaman sastra yang begitu empiris,kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat milenial. Menurut penelitian World’s Most Literate Nations yang dirilis oleh Central Connecticut University pada Maret 2016 lalu, berdasarkan surveri kegemaran membaca, Indonesia. Penelitian tersebut memang tidak berada hanya dalam ranah kesusastraan saja. Namun, melihat penilaian tersebut, muncul spekulasi bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia di era 2000-an ternyata masih sangat rendah.
Di era milenial saat ini buku sudah mulai ditinggalkan karena semua serba digital. Kecanggihan teknologi memudahkan masyarakat mengakses segala informasi,namun karena hal tersebut buku sudah mulai dilupakan. Padahal sumber paling utama adalah buku,sekalipun informasi yang ada di buku bisa kita dapatkan di internet. Minat baca masyrakat saat ini juga sangat minim,tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas diri kita.
Galakkan Literasi
Melihat polemik tentang rendahnya masyarakat tentang sastra dan membaca maka butuh pergerakkan. Salah satunya adalah dengan menggalakkan kegiatan literasi di segala lini kehidupan kita. Literasi dapat membantu meningkatkan minat membaca, menulis dan budaya  di masyarakat.
Generasi sekarang haus akan pola pikir sastrawi, humanis, dan berbudaya. Banyaknya kerusakan kata-kata anak mengindikasikan negeri ini butuh generasi sastra. Lickona (1992: 14) menegaskan salah satu indikator kerusakan suatu bangsa ialah bad language (penggunaan bahasa dan kata-kata buruk).
Keluarga harus mampu berperan membentuk karakter anak literat, melek sastra, dan berbudaya. Banyak hal yang dapat dilakukan keluarga demi memunculkan generasi literat. Orang tua membacakan dongeng, membangun perpustakaan kecil di rumah dan mengajak cerita anak-anak di rumah. Dengan kebiasaan seperti ini akan memunculkan generasi literasi.
Selain keluarga, lingkungan masyarakat juga memilki peran dalam generasi literasi. Mendirikan Taman Baca Masyarakat di lingkungan sekitar. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca. TBM atau Perpustakaan keliling sudah bertebaran di masyarakat kita. Ini menunjukkan masyarakat sebagian kecil sudah menyadari pentingnya membaca.
Sekolah hari ini harus memiliki program literasi. Pemerintah sudah mewajibkan kegiatan literasi di sekolah. Membudayakan membaca 15 menit sebelum belajar, menerapkan literasi dalam setiap pembelajaran, mendesign kelas literasi (pojok baca, pohon liteasi dll.) sampai dengan membuat kegiatan literasi.  
Banyak saat ini bermunculan lembaga atau organisasi yang menggalakkan literasi. Puisi salah satu bagian dari literasi. Dengan adanya peningkatan literasi maka akan secara otomatis meningkatkan eksistensi puisi di masyarakat. Meningkatnya literasi akan menciptakan penyair-penyair dan penulis puisi.
Lomba-lomba cipta puisi dan mendeklamasi atau membaca puisi di setiap acara baik pendidikan maupun non pendidikan. Membuat pelatihan menulis dan kelas penyair, Dengan demikian akan melahirkan dan membangun cinta masyarakat terhadap puisi. Ditambah lagi puisi adalah ungkapan jiwa/perasaan seseorang.
Saat ini masyarakat adalah penyair. Kenapa? Masyarakat hari ini memiliki akun di medsos. Kita ketahui akun medsos seperti Facebook, Instagram, Path dan lain sebagainya dijadikan sebagai alat menuangkan perasaan yaitu membuat status. Tanpa disadarai dengan membuat status itu dapat dikategorikan sebagai puisi, hal ini beranjak dari pengertian puisi tersebut. Dengan demikian puisi akan memiliki nilai dan tetap eksis di masyarakat.
***


Kamis, 25 April 2019


Ketika Selembar “Buku” itu Berarti
Oleh: Eva Juliyanti
Bercerita tentang dua orang kakak beradik yang masih duduk di sekolah dasar (SD), mereka hidup di sebuah rumah yang terletak pinggiran kota. Pada awalnya hidup mereka sangat berkecukupan, namun setelah sang ayah mereka meninggal, hidup mereka berubah drastis. Hidup mereka tidak mencukupi, selain ibu yang hanya seorang buruh cuci pakaian, mereka juga terancam putus sekolah. Namun Putri kakak Dias tidak mau menyerah pada keadaan ini.
Langkah kecil dua orang bocah, Putri dan Dias setia menyusuri pinggiran sungai. Kehilangan sosok seorang ayah membuat keluarga mereka harus hidup di bawah garis kemiskinan. Meski begitu, Putri dan Dias tidak pernah menyerah untuk selalu tetap sekolah. Keterbatasan dana selalu disikapi mereka dengan optimis.
Walaupun baru berusia 10 tahun dia selalu memberi semangat kepada Ibu dan adiknya Dias. Setiap sepulang sekolah, Putri dan Dias selalu pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari buku-buku bekas untuk mereka belajar. Dan setiap malam setelah belajar, mereka memisah – misahkan buku tulis yang masih kosong lalu di lem kembali untuk mereka menulis catatan yang diberikan guru. Mengikat sepatu yang hampir kehilangan tapaknya, hingga menjaga ibu yang selalu sakit-sakitan. Itulah sepenggal cerita dari Film karya Dedy Wafer yang berjudul “Selembar Itu Berarti”.
Film yang berdurasi 14 menit 37 detik ini mengajak penonton khususnya generasi muda untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu, meskipun terbatas oleh dana. Film ini bergenre drama keluarga. Film “Selembar Itu Berarti” yang juga diikutkan di ajang ISFF (Indonesian Short Film Festival) 2015 menggunakan talenta dari Medan dan sekitarnya. Adu akting artis cilik di film ini bakal memainkan emosi penonton. Film ini diikutkan dalam ajang ISFF selain untuk mengukur kemampuan bakat anak-anak Medan dan Sumatera Utara umumnya, juga sebagai cara untuk menebarkan aura optimis yang kian hari kian terkikis.
            Film bergenre keluarga yang disutradai oleh Dedy Wafer ini sangatlah mengiris hati setiap penontonnya. Dedy Wafer mengambil latar tempat di Kabupaten Langkat yaitu Gebang. Berlatar belakangkan dengan sebuah desa yang asri ini sepertinya tidak mencerminkan kehidupan sosial masyarakat setempat. Secara sosial dapat dikatakan masyarakat Gebang mempunyai jiwa sosial tinggi, namun dalam film ini tidak ditunjukkan kepedulian masyarakat Gebang mempuyai jiwa sosial.
            Hal ini dapat dilihat ketika keluarganya Putri dan Dias ditimpah musibah tidak sedikitpun warga masyarakat yang menolongnya. Ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan di pedesaan yang kental akan jiwa sosialnya. Ketika Ibunya Putri dan Dias sakit sampai meninggal seakan-akan tidak ada masyarakat yang peduli.
Buku Mampu Mengubah Dunia
            Dalam film tersebut ada sebuah kisah yang menarik untuk dikupas, yaitu perjuangan anak bangsa dalam meraih dunia pendidikan. Tidak semua anak-anak Indonesia dapat menikmati manisnya bangku sekolah. Banyak faktor yang menyebabkan itu semua, salah satunya adalah faktor ekonomi. Begitu halnya dalam film tersebut, kedua saudara yang sedang memperjuangkan sekolahnya meskipun harus berjuang tanpa orang tua.
            Mengkais buku-buku bekas yang masih layak pakai ini merupakaan salah satu potret miris untuk negara kita. Sebuah buku yang notabene adalah senjata untuk anak bangsa mampu menebus kebodohan  sulit untuk ditemukan. Buku adalah jendela dunia, maka wajar saja jika buku merupakan kebutuhan primer dalam dunia sekolah.Betapa pentingnya buku untuk kehidupan, sehingga jika kita mengabaikan membaca buku berarti kita mengabaikan pengetahuan emas dari buku dalam menata kehidupan itu sendiri.
Melalui bukulah kita bisa menembus ruang angkasa yang amat luas. Intinya, bahwa hanya dengan membaca buku, kita akan tahu banyak hal, kita juga bisa tahu banyak tentang relasi esensi alam ini dengan manusia. Semakin banyak buku yang kita baca, maka akan semakin mudah bagi kita untuk “menguasai dunia”.
Tapi sayangnya, membaca buku adalah suatu kebiasaan. Kebiasaan tersebut diawali oleh seringnya melatih diri menjadikan buku sebagai kebutuhan pokoknya. Sebagaimana belajar bahasa, seseorang tidak akan menguasai bahasa kalau tidak dipraktekkan setiap harinya. Rendahnya minat baca generasi penerus bangsa saat ini membuat mereka terpuruk dan tidak terbiasa untuk menganalisa berbagai masalah negara yang semakin ruwet.
            Terdapat laporan berjudul World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, merilis bahwa peringkat literasi Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. Tidak kalah mencengangkan dengan itu, survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa hanya ada 17,66 persen anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca, sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67 persen. Artinya hanya ada 1 dari 10 anak di Indonesia yang memiliki minat baca, dan 9 dari 10 anak Indonesia lebih menyukai untuk menonton televisi.
Ironisnya, saat ini membaca buku dianggap kegiatan kuno hal ini tertindas oleh kecanggihan dunia teknologi dan informasi. Masyarakat atau kalangan mahasiswa/pelajar secara perlahan sudah menjahui buku. Mahasiswa/pelajar saat ini sudah tidak tertarik lagi dengan buku-buku bacaan, meskipun berupa novel maupun cerpen. Mahasiswa/pelajar saat ini lebih memilih shoping, nongkrong di cafeĆ©, dan jalan-jalan daripada membaca bukuDan ini terjadi karena kehidupan santai dan pola mandiri yang tidak tepat sehingga membuat mahasiswa terlena dengan glamornya kehidupan kampus/sekolah.
Rendahnya minat baca terhadap buku, membuat mahasiswa/pelajar juga tidak terbiasa membolak-balik media informasi yang lebih penting. Mahasiswa sekarang lebih memilih aktifitas yang minim manfaatnya (fb-an, download lagu, film, dan semacamnya) daripada membaca buku. Dominasi teknologi instan saat ini memang membuat buku semakin dilupakan, akhirnya buku-buku yang ada di perpustakaan pun hanya sekedar menjadi pajangan belaka.
Buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk merubah dunia.  Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan manusia. Banyak  manusia-manusia hebat karena mereka adalah orang-orang kutu buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengilhaminya untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Karno karena wawasan yang luas dari hasil bacaannya.
Indonesia dapat melihat Jepang sebagai acuan dari negara maju yang gemar akan membaca. Rakyat Jepang adalah orang-orang yang gila ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang menjadi negara maju. Yang menarik untuk dicermati dalam hal ini adalah Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang.
Melihat dari fakta yang telah terpapar di atas Indonesia harus menggalakkan untuk rakyat gemar membac buku. Meskipun di era digital sekarang ini, semua orang bisa mengkases informasi melalui digital namun buku cetak tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Berbagai upaya pemerintah dalam menggalakkan gemar membaca buku, salah satunya dengan menerapkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Dengan demikian, penyediaan buku-buku haruslah banyak untuk mendukung kegiatan tersebut.
Merasakan kehadiran buku sebagai jendela untuk kita untuk melihat masa depan, serta jadikanlah keberadaan buku sebagai jembatan untuk kita untuk berusaha menjadi makhluk Tuhan yang mencintai ilmu. Sebab untuk banyak menguasai ilmu, kita harus banyak membaca buku. Dengan sering membaca buku, kita akan menguasai dunia. Seperti seorang bijak bestari menyatakan “ membaca adalah jendela dunia”.
Suatu kebohongan belaka jika seseorang ingin mendapatkan ilmu namun ia tidak ingin membaca, karena sangat jelas bahwa ilmu akan didapat setelah kita membaca. Dalam Islam sendiri perintah membaca terdapat dalam qur’an surah Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi Iqro’ artinya bacalah. Ayat tersebut memerintahkan ummat Islam untuk membaca, segala sesuatu yang diperintahkan Allah pasti akan membawa manfaat bagi ummatnya.

Penulis adalah alumni UMSU dan Guru SIT Iqro’  Stabat


“Keanarkisan ” Pribadi Anak Bangsa ?

Oleh : Eva Juliyanti

            Aksi anarkis dewasa ini kian marak dilakukan oleh pelajar/ mahasiswa bahkan para wakil rakyat. Anarkis ini dilakukan sebab ketidakpuasan terhadap suatu keputusan pemerintah. Rasa itu diluapkan dengan melakukan aksi yang membabi buta, khususnya para pelajar merusak fasilitas umum yang berada di wilayah mereka melakukan aksi tersebut. Beda halnya dengan wakil rakyat  melakukan sikap anarkis dengan menggrogoti harta Negara.
            Aksi menyimpang itu sangat mengganggu masyarakat dan mencoreng kepercayaan masyarakat. Selama ini masyarakat memeberikan amanah kepada mereka sebagai wadah dan yang mengatas namakan suara rakyat untuk mengapresiasikan jeritan rakyat. Namun kenyataannya, mereka  menodai dengan aksi memalukan itu.
            Jika ditilik penyebab dari aksi krimainal bagi pelajar atau mahasiswa khususnya ini tidak lepas dari peranan orang tua. Dalam pembentukan karakter orang tua mempunyai peranan sangat penting. Orang tua adalah seseorang yang sangat dekat dibandingkan dengan  lainnya.
            Orang tua tidak bisa melepas tanggung jawab terhadap hak asuh anak bergitu saja kepada pihak yang diberi kepercayaan sebagai wadah pendidik anak. Para pendidik yang disebut dengan guru ini tidak sepenuhnya dapat mengawasi peserta didiknya. Kelalaian orang tua berakibat fatal terhadap perilaku anak.
Beda pula halnya dengan sikap anarkis dari para wakil rakyat, factor mereka melakukan sikap anarkis ini kebanyakan mementingkan kekuasaan semata. Kursi jabatan, uang berlimpah, kehormatan dan sebagainya menjadi piyoritas utama mereka, tugas mereka sebagai wakil rakyat terbang dibawa angin tornado.
Demi meraih itu semua segala cara akan ditempuhnya. Cara halal dan tidak halal sudah tidak dapat dibedakan lagi karena mereka sudah buta, buta akan kedudukan dan kekuasaan yang serasa di surga itu. Korupsi merupakan tradisi dan jalan alternative untuk mendapatkan semua itu. Muka sudah tebal, rasa malu sudah hilang.
Berbicara tentang sikap ada yang namanya sikap dewasa. Seseorang dikatakan dewasa jika dia dapat menghadapi masalah dengan tenang. Taraf kedewasaan tidak dapat ditentukan dari segi factor usia, usianya sudah dewasa belum tentu sikapnya dewasa dan sebaliknya.
            Pemikiran masyarakat selama ini semakin tua umur, semakin dewasa pula. Namun pada kenyataannya tidak semua orang seperti itu. Ada usia masih muda dan bisa dibilang belia namun sikapnya sudah dewasa. Kedewasaan dapat dilihat dari bagaimana sesorang menyikapi sebuah masalah dengan bijaksana. Jelas sudah bahwa kedewasaan itu tidak dilihat dari umurnya, melainkan dari pola berfikir dalam bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Dewasa ini sangat relative bukan?
            Anak kecil bermain bersama teman-temannya namun ia berkelahi, secara otomatis anak tersebut akan melakukan segala cara untuk mengalahkan lawannya. Sikap seperti inilah yang disebut tidak dewasa ( Kanak-kanak ). Nampaknya dewasa ini sosok kedewasaan sudah luntur dalam jiwa orang dewasa. Kenapa tidak orang dewasa (Usia) namun bersikap seperti anak-anak.
            Tidak hanya para pelajar atau mahasiswa yang notabene masih menganyam dunia pendidikan untuk menuju ke jenjang kedewasaan yang hakiki yang bersifat Kekanak-kanakan namun para wakil rakyat yang duduk dikursi dewan tak luput dari cap Kekanak-kanakan. Bayangkan saja mereka melakukan segala cara untuk saling menjatuhkan satu sama lain dan demi merebut suatu posisi mereka saling berkhianat dan saling menyabet.


 Lunturnya empat pilar kebangsaan
            Sikap yang ditunjukan oleh para wakil rakyat ini sangat miris, empat pilar kebangsaan yang gencar dicanangkan oleh Alm. Taufik Kiemas yakini, Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika sudah luntur dengan sikap mereka. Alm. Taufik kiemas mensosialisasikan ke empat pilar kebangsaan ini untuk menjadikan masyarakat menjadi masyarakat yang berbangsa dan bernegara yang mempunyai moralitas tinggi.
            Pancasila sebagai dasar Negara ini jika dipahami maknanya dari sila pertama sampai sila kelima maka tidak akan terlahir masyarakat yang rendah akan moral, akhlak dan sifat Kekanak-kanakkan. Seperti sepenggal lagu Pancasila berikut ini :
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil, makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju-maju…Ayo maju-maju…Ayo maju-maju
            Jika masyarakat mengamalkan pancasila niscaya Negara ini akan maju dan berkemabang dari segi manapun dengan itu akan ikut serta bersaing dengan Negara maju lainnya. Namun kenyataannya sekarang ini Indonesia sudah melupakan pondasi negaranya yaitu Pancasila. Bagaimana tidak para wakil rakyat sendiri yang menunjukkan akan hal itu.
            Wakil rakyat panutan masyarakat sudah tidak memberikan contoh yang baik , jadi wajar saja jika masyrakatnya pun ikut bersikap seperti mereka. Bahkan kehormatan yang seharusnya mereka terima kini sulit diterima, kenapa tidak mereka sendiri yang menodai kehormatan mereka. Seperti halnya lirik lagu Iwan Fals berikut ini yang menyindir wakil rakyat :
            Wakil rakyat seharusnya merakyat
            Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Tak jauh beda dengan pengamalan pancasila, ketiga pilar kebangsaan lainnya UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ikapun sudah dilupakan. Ditambah lagi dengan marakanya budaya asing dengan mudahnya masuk ke Negara ini tanpa adanya filter. Filternya saja sudah rusak dan dibuang ke tong sampah. Kata perdamaian sudah jauh dari Indonesia, Negara yang terkenal dengan ramah ini.
Peperangan kian semarak terjadi, baik perang senjata maupun perang pendapat. Saling menjatuhkan, bunuh-bunuhanpun tak terelakkan lagi, mereka telah membunuh saudara mereka sendiri. Misalnya saja di Ambon sering terjadi perang antar suku dan perang agama yaitu dengan datangnya aliran Ahmadiyah.
            Dengan mengamalkan empat pilar kebangsaan ini maka sifat kedewasaan akan meningkat dan tumbuh dengan elaktabilitas yang tinggi pula. Dengan sendirinya akan mengurangi sifat anarkis yang selama ini terjadi baik dikalangan pelajar/ mahasiswa maupun para wakil rakyat yang bertugas  mengayomi rakyat.