Aku Ingin Menjadi Istri Soleha
Oleh : Eva Juliyanti
Setiap wanita muslimah pasti memiliki cita-cita menjadi istri soleha
bagi suaminya. Sebaliknya suamipun menginginkan istri yang soleha untuk
mendampinginya dalam membangun rumah tangga. Memiliki isitri soleha bagi suami
bagaikan memperoleh kenikmatan di dunia, sebagaimana dengan hadist Rasulullah
yang diriwiyatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah SAW bersabda,”
Dunia ini adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri)
soleha.”(HR. Muslim dan Ahmad). Untuk
menjadi istri yang soleh tidaklah sulit, namun butuh keistiqomahan dan komitmen
dalam diri.
Menjadi istri soleha memiliki banyak
keutaman. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menyebutkan dalam sebuah hadist shahih
Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan Hur’ain (bidadari) di
surga kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yang kecantikannya
dan keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan wanita lainnya. Siapa
wanita itu? Ternyata wanita itu adalah istrinya selama di dunia. Itulah
keistimewaan para istri dunia di surge kelak. Dia akan menjadi ratu para
Hur’ain (bidadari). Lalu Ibnu Qayyim mengatakan “ Apakah seorang raja pernah
memikirkan pelayannya di hadapan ratunya? Tentu tidak. Jadi Allah akan memberikan pada istri di
dunia kecantikan yang luar biasa jauh melebihi para bidadari di surge kelak.
Kenapa begitu? Ibnu Qayiim menjelaskan,” Karena Hur’ain (bidadari) tidak pernah
menghadapi kesulitan seperti wanita di dunia. Mereka tidak pernah berjuang di
jalan Allah, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami dan sebagainya.”
Dalam hadist lain menyebutkan bahwa
wanita (istri) dunia yang shaliha lebih utama dari pada bidadari surga. Ummu Salamah
Radhiyallahu’anha bertanya kepada
Rasulullah SAW “ Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita di dunia
atau bidadari yang bermata jeli? Rasulullah SAW menjawab, “ Wanita-wanita dunia
lebih utama dari pada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti kelebihan apa
yang tampak dari pada apa yang tidak tampak.” Kemudian bertanya lagi, “ karena
apa wanita dunia lebih utama dari bidadari?” Rasulullah SAW menjawab, “ Karena
shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah
mereka. Tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya
berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya
terbuat dari emas. Mereka berkata, kami hidup abada dan tidak mati. Kami lemah
lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak
sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut, berbahagialah orang
yang memiliki kami dan kami memilikinya. ( HR. AT Thabrani)
Sungguh mulia kedudukan wanita (istri)
soleha, bahkan lebih baik dari pada bidadari surga. Sudah sepantasnya kita
menjadikan istri soleha sebagai cita-cita tertingi kita. Ketika kita menjadi
istri yang soleha maka kita akan bebas masuk ke surga lewat pintu mana saja.
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu,
juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga
kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka
dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga
melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)
Untuk menjadi istri soleha, ada
beberapa perkara yang harus istri lakukan, di antaranya; Pertama, Mendahulukan hak suaminya dari pada hak orang lain
termasuk hak atas dirinya.
Kedua, Senantiasa bersedia memberikan
kenikmatan (termasuk kenikmatan batin) kepada suami., terutama jika suami yang
menginginkannya terkecuali dalam keadaan haid atau nifas. Apabila istri menolak
keinginan suami tanpa sebab dan alasan yang diperbolehkan dalam ajaran Islam,
maka saat itu juga istri berdosa, bahkan dilkanat oleh malaikat. Sabda
Rasulullah SAW mengatakan, “Apabila suami mengajak istrinya berhubungan, lalu
istrinya menolak tanpa alasan yang diperbolehkan lalu suaminya marah maka istri itu dilaknat
malaikat.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ketiga, Tidak menjalankan puasa sunnah
tanpa seizin suaminya. Ketika istri sedang berpuasa, sudah tentu suami dilarang
menggaulinya, padahal hak bergaul adalah hak suami kepada istrinya, hal ini
sesuai dengan hadist Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA,
Rasulullah bersabda,” Tidak halal(tidak boleh) seorang istri berpuasa padahal
suaminya ada di rumah, kecuali atas izinya. “ (HR. Bukhori dan Muslim)
Keempat,tidak diperkenankan bagi istri
memberikan sesuatu dari dalam rumahnya atau mengeluarkan sesuatu dari dalam
rumahnya tanpa izin dan sepengetahuan suaminya. Tentunya hal-hal yang bernilai
dan harus sepengetahuan suami.
Kelima, tidak bepergian meninggalkan rumah
dan mencari nafkah atau kerja tanpa seizin suami sebab mencari nafkah adalah
tugas suami dan istri tugasnya di rumh.
Keenam, memiliki sifat qana’ah yaitu
menerima apa adanya segala kemampuan suami dalam mencari nafkah. Istri tidak boleh menuntut suaminya di luar
batas kemampuan suami. Menajdi istri kita harus bersyukur atas pemerolehan suami
dan seharusnya memberikan semangat untuk bersabar dan giat dalam mencari
nafkah.
Ketujuh, wajib menutup aurat dan tidak
memperlihatkan kecantikannya kepada orang lain yang tidak berhak melihatnya.
Kedelapan, menjaga jarak
dengan lawan jenis terutama teman suami. Hal ini harus dihindari untuk
menghindari fitnah. Terlebih saat ini banyak sekali rumah tangga hancur karena
adanya orang ketiga. Maka dari itu segala hal yang dapat memicu hadirnya orang
ketika agar dihindari.
Kesembilan, rendah hati
dan tidak menyombongkan atas kecantikan atau kelebihan (fisik dan materi) yang
dimiliki. Bahkan sampai menghina
kekurangan suami, misalnya dari segi fisik dan kemampuan lainnya. Suami adalah
orang yang harus dijaga kehormatannya, dilayani sepenuh hati, dijaga kewibawaan
dan kehormatannya, serta dihargai.
Kesepuluh, memiliki rasa
cinta dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Mendidik dan membesarkan
anak-anak dengan penuh kasih sayang bukan dengan kekerasan. Mendidik anak-anak
dengan pendidikan Islam yang baik, akhlak yang baik dan selalu menjadi anak
yang ingat dengan Allah. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Anak hebat, terlahir dari ibu yang hebat.
Ketaatan istri kepada suami akan mengantarkan istri masuk surge. Islam pun memuji istri yang taat
pada suaminya. Bahkan istri yang taat suami itulah yang dianggap wanita
terbaik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Pernah ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling
baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya,
mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan
hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai dan Ahmad )