Minggu, 15 Maret 2020

Aku dan Kisah Dakwahku #2

Ketika berdakwah langsung terjun ke masyarakat ternyata lebih menantang. Selama ini aku berkecimpung di dunia dakwah secara berjama'ah. Nah kali ini aku hanya ditemani suami. Aktivis dakwah sudah melekat dalam diri ketika masih zaman kuliah. Rutinitasku selalu dibumbui dengan kegiatan dakwah. Ya karena sesungguhnya setiap diri kita adalah da'i, orang yang berdakwah mengajak dan mengingatkan orang lain akan Allah. Da'i bukanlah sebuah piliha,melainkan sebuah keharusan. Tugas kita di muka bumi ini untuk menyampaikan apa yang kita ketahui.

 "Sampaikanlah walau satu ayat"

Tentu kita tidak asing dengan kata di atas. Ya itu merupakan seruan bagi kita semua (orang yang beriman) untuk menyampaikan kebenaran. Walaupun kita hanya menyampaikan huruf Alif itu sudah menandakan kita ini da'i. Menyampaikan kebenaran bukan hanya tugas ustad, ulama atau guru, tapi tugas kita semua.

Masih berbicara masalah dakwah. Tantangan dakwah ketika aku masih jadi mahasisa, lalu kerja di lingkungan yang notabene para penggerak dakwah dengan kondisi saat ini berjuang di jalan dakwah sangatlah berbeda. Aku dan suami hanyalah manusia biasa yang terkadang mengalami fluktuasi keimanan. Suami yang baru berhijrah dan aku juga proses hijrah kami butuh tempat untuk mencharge iman kami.

Setiap Ahad kami sempatkan datang kajian di Masjid Agung Binjai. Di sanalah kami menemukan girah dakwah kembali. Selama aku dan suami di tempatkan di tempat baru, kami belum kembali melingkar dalam lingkaran cinta (masih dalam proses transferan).

Keberanian sangat dibutuhkan lebih ketika kita terjun ke masyarakat. Berbagai perangai kita jumpai di sini. Mulai dari orang yang tau tapi tidak mau dikasih tau, tau tapi masa bodoh lebih parah tidak tau dan tidak mau dikasih tau. Slentingan , kritikan terkadang terdengar di kuping ini. Lalu untuk penguat kami selalu membandingkan perjuangan dakwah kami ini dengan perjuangan Rasulullah . Jelas dakwah kami belum ada apa-apanya dibandingka  dengan perjuangan nabi dan para sahabat.

Suami punya agenda mingguan. Tiap malam Ahad membuat kajian rutin di masjid dekat kami tinggal. Masya Allah yang datang hanya bisa dihitung dengan jari, padahal masyarakat muslimnya lumayan banyak. Berbagai cara kami tempuh untuk menarik masyarakat untuk hadir kajian.

Kami membuat seleberan info dan disebar ke warung serta rumah orang muslim di sini. Kami infokan juga ke perwiritan ibu-ibu karena perwiritan bapak-bapak belum ada. Namun hasilnya masih sama. No problem!  Allah tidak pernah melihat hasil tapi melihat prosesnya. Sekali lagi bisa kita tekankan, tugas kita hanyalah mengingatkan dan mengajak, masalah mereka berubah atau tidak itu hak Allah secara mutlak.

Selain kajian tiap malam Ahad, kami juga terjun ke pemuda. Suami hidupkan perwiritan remaja. Masya Allah anggota yang hadir ke perwiritan lagi -lagi bisa dihitung jari. No problem!  Konsep perwiritan kali ini berbeda dengan perwiritan  lainnya. Jika selama ini wirit baca yasin maka konsep di sini membaca AlKahfi. Kenapa? Karena dilakukan di malam Jum'at dan kami ingin mendapatkan fadilah dari surah Al Kahfi. Faktor lainnya juga remaja masih banyak yang belum lancar membaca Al Quran ( tetaapi mereka semangat belajar Al Quran). Setelah yang ikhwan (laki-laki) membaca surah Al Kahfi, selanjutnya ada belajar membaca Al Quran dan dilanjutkan tausiyah.

Konsep ini sempat dapat kritikan dari masyarakat. Mungkin mereka anggap aneh. Setelah dijelaskan lambat laun mereka faham atau kami yang tak mendengar slentingan itu lagi.  Biarlah mereka di luar sana berkomentar apa tengang kami, selagi yang kami buat sesuai Al Quran dan Hadist kami akan terima.

Aku dan Al Fatih (anakku)...
.
.
#Kisahku
#Part2

Aku dan Kisah Dakwahku 1

Aku pernah mendengar dari seroang motivator bahwa kita semua berpeluang untuk menjadi sukses. Orang miskin sukses banyak, orang bodoh sukses banyak, orang kaya dan pintar sukses banyak. Namun tidak ada dan tidak akan pernah ada orang MALAS itu sukses.

Berbicara masalah kesuksesan, setiap kita pasti menginginkan sukses baik di akhirat dan di dunia. Tapi untuk menuju itu semua, kita harus menapaki tangga perjuangan. Di mana setiap anak tangga memiliki estetika cerita sendiri.

Untuk menjadi sukses kita harus keluar dari zona ternyaman kita. Kita harus buang kebiasaan buruk kita yang mungkin selama ini masih berleyeh-leyeh dengan gawai kita di tempat tidur. Kita habiskan waktu kita untuk stalking dunia maya yang tiada habisnya. Nah kita harus tinggalkan hal ini, jadilah manusia penggerak bukan manusia rebahan.

Aku adalah seorang ibu rumah tangga, yang sebelumnya adalah seorang guru di sekolah swasta ternama di Stabat. Berat rasanya ketika harus memutuskan untuk resign dari karir yang sudah diraih selama ini untuk menjadi ibu rumah tangga. Dengan berbagai pertimbangan dan pastinya ridho suami aku dengan pasti memutuskan resign itu artinya keluar dari zona nyaman.

Keputusanku ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Cibiran pun tak terelakkan bahkan dari keluarga. " Sayang dong sarjananya, kalau cuma jadi ibu rumah tangga doang." Hanya senyuman kuberikan terhadap cibiran itu. Bagiku karir masih bisa diraih, bahkan aku masih berkarir walaupun di rumah. Anak dan suamiku membutuhkanku saat ini.

Aku tipe orang yang tidak bisa hanya diam di rumah seperti patung, maklum karena aku adalah orang ekstrovert yang suka dengan pergerakkan. Peranku sebagai ibu dan istri di rumah dengan seksama aku menikmatinya. Ditambah lagi beruntungya aku memiliki suami yang selalu mendukung dan membantuku. Walaupun ragaku di rumah, namu ide-ide berkeliaran tak terbendung.

Dengan dukungan dan izin  suami, aku ikut membantu mengajar ngaji. Tidak hanya di situ kami juga membuat lembaga pendidikan berbasis Islam di daerah suamiku ditugaskan. Suamiku adalah seorang da'i yang diutus oleh salah satu lembaga zakat  di kota Medan. Beliau ditugaskan di daerah minoritas muslim, yaitu di tanah kelahirannya Desa Durian Lingga.

Mengajar di tempatku mengajar sebelumnya dengan sekarang sangatlah jauh berbeda. Jikalah dulu aku mendidik anak-anak dengan background keluarga golongan atas secara ekonomi dan menganut gaya kekotaan, kini aku harus mengajar siswa yang kategori ekonomi  cukup dan masih kental akan ciri kedaerahannya.

Di sini masih kental dengan adat istiadatnya, bahkan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Ibu (Bahasa Karo). Sudah pasti ini membuatku sedikit terhambat dalam berkomunikasi karena aku tidak bisa Bahasa Karo. Bukan hanya bahasa, intonasi berbicara  juga membuatku terkejut. Sebab jika selama ini aku terbiasa mendengar pembicaraan dengan nada rendah, ini harus mendengar dengan nada tinggi (bukan marah). Hal ini juga masih sering aku alami ketika awal menikah, suami yang masih terikut logat dan intonasi Karonya, membuatku terkejut bahkan merajok (hehe).

Terlepas dari itu semua aku mencoba mendamaikan hati dan fikiran bahwa mereka pada dasarnya sama dengan murid-murid lainnya. Di sinilah letak tantanganku sebagai guru. Bukan untuk merubah namun menluruskan yang selama ini bengkok. Aku mulai menikmati bermain dengan mereka. Keakrabanpun tak butuh waktu yang lama. Aku menganggap mereka sebagai teman mainku.

Selain mengajar ngaji aku juga membuka kedai (menjual jajan-jajan ringan) untuk mereka (anak ngaji). Awal niat sama suami yaitu agar mereka tidak keluat lingkungan masjid. Selain itu, semoga jualan kecil kami ini menjadi awal untuk mewujudkan impian kami membuk grosir (aamiin semoga segera terwujudkan).

Di rumah tugasku bukanlah hanya mengurus rumah , anak dan suami. Aku dan suami juga bekerja sama sebagai fatner untuk merancang segala ide kami, mulai dari buat TK dan lain sebagainya. Jatuh bangun, pesimis, futur dan menyerah sempat menyinggapi kami. Namun kami saling menguatkan. Suamiku selalu mengingatkan bahwa tujuan kita untuk berdakwah dan menolong agama Allah, dengan begitu semangat ini kembali berkobar walaupun sempat redup dan padam.

Kami isi hari-hari kami selalu bersama, kecuali Sabtu dan Ahad ketika suami kuliah. Intensitas waktu kami berjumpa semakin mempererat tali kasih kami. Bahkan sejak menikah kami tidak pernah LDR-an dalam waktu yang lama. Kami selalu bersama, wajar saja kalau aku sedikit berat hati jika suami lama dalam bepergian. Kami pernah LDR-an (aku rasa sangat lama) ketika habis lahiran. Aku di rumah mamak dan suami di tempat ia memgabdi. Hanya lebih kurang tiga minggu saja kami LDR-an itu sudah membuatku merasa hampa (harap maklum ya).

Aku dan suami sepakat dalam pengasuhan anak saling bekerja sama. Alhamdulillahnya suamiku sangat menjalankan perannya sebagai seorang Abi. Kami ingin  memutus rantai pengasuhan yang salah selama ini. Kami sangat mengharapkan anak yang Allah titipkan kepada kami akan menjadi hamba yang menolong agama Allah. Maka sejak masih dalam kandungan kami sudah mengedukasinya dengan kebaikan.

Ketika....
.
.
.

#Kisahku
#Part1